SAMARINDA — Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, menjelaskan bahwa asap dari kebakaran yang terjadi sebelumnya belum sepenuhnya hilang dari atmosfer. Partikel asap itu berada pada lapisan tertentu dan bisa kembali turun ke permukaan ketika cuaca mendukung.
"Bukan karena pada saat itu kebakaran yang ada di wilayah Samarinda atau sekitar situ, tapi akibat turunnya asap yang ada di atmosfer," kata Buyung dalam agenda Press Release Penanganan Karhutla dan Kekeringan Provinsi Kaltim Tahun 2026, Selasa (22/9/2026).
Tertutupnya awan di wilayah Kalimantan selama 15-19 September lalu memicu proses inversi. Sinar matahari terhalang, dan asap yang tertahan di atmosfer turun mendekati permukaan tanah.
Fenomena serupa berdampak di Kutai Kartanegara, Paser, Kutai Barat, Mahakam Ulu, Balikpapan, Kutai Timur, dan Bontang. Jarak pandang di sejumlah titik menurun, bahkan pernah kurang dari 500 meter.
"Pada saat itu asap akan turun ke bawah sehingga beberapa hari kemarin kelihatan seperti sangat pekat," ujarnya.
Ketika tutupan awan kembali terbuka, sinar matahari membuat asap naik lagi ke atmosfer. Kondisi udara pun tampak membaik, meski asap belum sepenuhnya hilang.
Buyung meminta warga tetap waspada terhadap perubahan kualitas udara, terutama pada pagi hari. Asap masih berada di atmosfer dan berpotensi turun kembali saat kondisi cuaca memungkinkan.
"Untuk menghilangkan asap yang ada di atmosfer tadi perlu hujan yang masif dan tidak cukup dalam satu hari," jelasnya.
Kabut asap sempat mengganggu aktivitas warga Kaltim. Selain menurunkan jarak pandang, kondisi itu berdampak terhadap penerbangan dan kegiatan pendidikan.
Data BPBD Kaltim hingga 21 September mencatat sekitar 1.470 titik karhutla dengan luas lahan terbakar 6.333 hektare. Sebagian besar lahan yang terbakar berada di luar kawasan hutan.
Buyung menyebut kemarau El Nino menyebabkan kekeringan ekstrem di Kaltim. Vegetasi di bawah menjadi sangat kering dan mudah terbakar.
"Kondisi kemarau El Nino ini menyebabkan terjadinya kekeringan ekstrem. Jadi vegetasi di bawah ini sangat kering hingga sangat mudah terbakar. Efek dari pada kekeringan itu akan muncul gampangnya atau mudahnya terbakarnya lahan," pungkasnya.
BPBD Kaltim mengimbau masyarakat memantau kualitas udara harian dan mengurangi aktivitas luar ruangan pada pagi hari selama potensi asap turun masih ada.