SAMARINDA — Kemajuan teknologi komunikasi membuka ruang bagi siapa saja untuk menyampaikan pendapat di ruang publik. Bermodalkan akun media sosial dan perangkat digital, seseorang dapat menciptakan panggung bagi dirinya sendiri. Situasi itu memunculkan ilusi bahwa kebebasan berbicara sama dengan kebenaran.
Ria, jurnalis perempuan asal Kalimantan Timur, menilai fenomena tersebut perlu dicermati. Menurutnya, media sosial bukan hanya menjadi ruang bagi orang yang ingin didengar, tetapi juga ingin dibenarkan.
Dalam sistem penyajian informasi pers, kebenaran sebuah tulisan tidak hanya ditentukan oleh pengalaman dan pengetahuan penulis. Fakta yang disajikan menjadi penentu utama. Jurnalis memiliki tanggung jawab mencari informasi, memverifikasi data, dan melakukan konfirmasi kepada pihak terkait.
Semua proses itu dilakukan untuk menjaga keberimbangan berita. Tujuannya menempatkan suatu peristiwa dalam konteks yang tepat, bukan sekadar menyebarkan informasi secepat mungkin.
Persoalan terbesar media sosial saat ini adalah kecepatan penyebaran informasi. Konten yang disampaikan secara emosional, kontroversial, dan memancing kemarahan cenderung paling menarik perhatian publik. Sebaliknya, informasi yang membutuhkan penjelasan panjang kurang diminati.
Ria menegaskan bahwa kerja jurnalistik bukan tentang bagaimana informasi tersebar dengan cepat. Yang utama adalah bagaimana informasi yang disajikan tetap akurat. Tanggung jawab terbesar jurnalisme adalah memastikan informasi yang disampaikan benar.
Seorang jurnalis bukan mesin pembenar bagi siapa pun. Profesi ini juga bukan sekadar menyalin informasi ke dalam bentuk tulisan, melainkan memastikan kebenaran informasi tersebut.
Media sosial menawarkan keuntungan bagi pengguna yang mampu menyajikan konten menarik. Interaksi tinggi dan jangkauan luas menjadi daya tarik utama. Sayangnya, sering kali tidak menjadi persoalan apakah konten tersebut sesuai fakta atau tidak.
Konten yang mengandung kebohongan dapat menarik perhatian besar apabila mampu menyentuh emosi masyarakat. Ria memberi contoh seorang politikus yang membangun citra sebagai sosok merakyat lewat media sosial. Dengan mengenakan pakaian yang dibeli di pasar tradisional dan berinteraksi langsung dengan warga, ia memperoleh predikat sebagai pemimpin yang merakyat.
Namun, setelah menjabat, masyarakat mungkin dikejutkan oleh gaya hidup mewah yang ditampilkan keluarganya. Konten yang paling banyak dilihat belum tentu paling akurat. Konten yang paling banyak dibagikan belum tentu lengkap informasinya.
Media sosial hadir sebagai ruang diskusi publik yang lebih bebas. Informasi yang beredar berasal dari masyarakat dan untuk masyarakat. Kondisi ini membuat seseorang merasa memiliki kebebasan menyampaikan pendapat dan memperoleh perhatian.
Tanpa disadari, keadaan tersebut dapat membangun rasa haus akan validasi. Sistem algoritma yang bekerja berdasarkan preferensi pengguna memperkuat kondisi itu. Seseorang dapat merasa pendapatnya merupakan representasi keinginan mayoritas masyarakat.
Padahal, validasi tidak selalu berarti kebenaran atau solusi. Sering kali validasi hanya menghasilkan pengakuan semu tanpa dampak nyata bagi perbaikan publik.
Informasi merupakan kebutuhan masyarakat. Kehadiran media informasi yang bersifat edukatif dapat menjadi sarana membangun kesadaran publik dengan tetap menjunjung nilai-nilai demokrasi. Melalui informasi yang disajikan secara bertanggung jawab, solidaritas sosial yang mendukung arah pembangunan masyarakat perlahan terbentuk.
Media informasi berbasis pers memiliki tanggung jawab besar untuk menjunjung tinggi nilai kejujuran dan mengutamakan kepentingan publik. Ria menekankan bahwa perbedaan mendasar antara penulis dan jurnalis terletak pada proses verifikasi yang tidak bisa dilewati.