Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Kalimantan Timur membeberkan hasil pemetaan profil risiko bencana di sepuluh kabupaten dan kota, dengan 12,90 juta hektare wilayah masuk kategori kelas risiko tinggi. Kajian risiko bencana itu menjadi acuan penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana daerah. Dari pemetaan tersebut, 3,80 juta jiwa tercatat terpapar ancaman multibahaya di seluruh wilayah provinsi.
SAMARINDA — Kepala Pelaksana BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan menyampaikan hasil pengkajian itu di Samarinda, Rabu. Pemetaan mencakup identifikasi profil ancaman, tingkat kerentanan, kapasitas, serta analisis potensi risiko bencana daerah secara terpadu.
Indeks Ketahanan Daerah Provinsi Kalimantan Timur berada pada angka 0,42. Nilai itu tergolong dalam kategori kapasitas sedang.
71 Indikator Ukur Kapasitas Ketahanan Daerah
Penilaian kapasitas daerah diukur melalui 71 indikator capaian ketahanan kebencanaan di tingkat wilayah. "Penilaian kapasitas daerah tersebut diukur secara terperinci melalui tujuh puluh satu indikator capaian ketahanan kebencanaan di tingkat wilayah," ujar Buyung.
Hasil analisis peta kebencanaan merekam potensi luas ancaman multibahaya di Kaltim mencapai 12,90 juta hektare. Luasan itu masuk kategori kelas risiko tinggi.
Akumulasi potensi penduduk yang terpapar ancaman multibahaya di seluruh kabupaten dan kota tercatat 3,80 juta jiwa.
Enam Bencana Hidrometeorologi dan Karhutla di Kelas Risiko Tinggi
Dari pemetaan tersebut, enam jenis bencana hidrometeorologi dan karhutla ditetapkan masuk klasifikasi tingkat risiko tinggi. "Dari pemetaan tersebut, enam jenis bencana hidrometeorologi dan karhutla ditetapkan masuk dalam klasifikasi tingkat risiko tinggi," tutur Buyung.
Kategori risiko tinggi meliputi banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, serta tanah longsor.
Sementara potensi bencana pesisir dan geologi diklasifikasikan ke kelas risiko sedang. Jenisnya mencakup gelombang ekstrem, abrasi, gempa bumi, likuefaksi, hingga tsunami.
Adapun ancaman bencana non-alam berupa epidemi wabah penyakit dan kegagalan teknologi tergolong kategori kelas risiko rendah. "Adapun ancaman bencana non-alam berupa epidemi wabah penyakit dan kegagalan teknologi tergolong ke dalam kategori kelas risiko rendah," kata Buyung.
Kajian Risiko Jadi Acuan Rencana Penanggulangan Bencana
BPBD Kaltim menegaskan kajian risiko bencana masuk ke instrumen perencanaan pembangunan daerah. Kajian itu menjadi rekomendasi untuk menjamin efektivitas alokasi anggaran mitigasi daerah.
"Kami berkomitmen penuh memperkuat sistem peringatan dini serta kapasitas kesiapsiagaan masyarakat di seluruh kawasan rawan bencana," kata Buyung.
Kajian risiko bencana menjadi acuan dalam menyusun Rencana Penanggulangan Bencana di sepuluh kabupaten kota. "Kajian risiko bencana menjadi acuan dalam menyusun Rencana Penanggulangan Bencana di sepuluh kabupaten kota," kata Buyung.