KALIMANTAN TIMUR — Pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan aksi jual massal di pasar Asia. Ringgit Malaysia terdepresiasi 0,22 persen, peso Filipina melemah 0,50 persen, dan won Korea Selatan anjlok hingga 1 persen. Hanya dolar Hong Kong yang mencatat penguatan tipis 0,01 persen terhadap greenback. Mata uang utama negara maju juga tak luput dari tekanan: euro Eropa turun 0,17 persen, poundsterling Inggris melemah 0,18 persen, dan dolar Australia terkoreksi 0,24 persen.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengidentifikasi tiga sentimen utama yang membuat rupiah babak belur. Pertama, harapan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran kembali meredup, memicu ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kedua, harga minyak mentah dunia yang masih bertahan di level tinggi terus membebani negara pengimpor energi seperti Indonesia.
"Pengumuman MSCI hari ini diperkirakan tidak akan memberikan berita baik pada IHSG, dan akan ikut menekan rupiah," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com. Ia menambahkan, investor juga menantikan data penjualan ritel Indonesia yang akan dirilis siang ini sebagai indikator kesehatan konsumsi domestik.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.350 hingga Rp17.500 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Level Rp17.500 menjadi batas psikologis yang krusial: jika ditembus secara konsisten, potensi pelemahan lanjutan ke Rp17.600 terbuka lebar. Sebaliknya, jika data penjualan ritel Indonesia mengecewakan, tekanan jual bisa semakin deras.
Sepanjang pekan ini, rupiah sudah kehilangan lebih dari 150 poin. Pasar menanti sinyal dari bank sentral AS (The Fed) terkait arah suku bunga, yang akan menjadi penentu utama pergerakan dolar global ke depan.
Bagi importir, pelemahan rupiah berarti biaya bahan baku dan barang modal semakin mahal, yang berpotensi menekan margin keuntungan. Sementara bagi eksportir, kurs yang lemah justru menguntungkan karena penerimaan dalam dolar menjadi lebih besar saat dikonversi ke rupiah. Investor pasar modal juga perlu waspada: pelemahan rupiah biasanya diikuti aksi jual asing di pasar saham dan obligasi, yang bisa menekan IHSG lebih dalam.
Investasi mengandung risiko. Pergerakan nilai tukar bersifat fluktuatif dan dipengaruhi oleh faktor eksternal yang sulit diprediksi secara akurat.