JAKARTA — Harga minyak sawit mentah atau CPO di pasar dalam negeri ikut tergerus di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang kian dalam. Tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) mencatat, harga CPO (tidak termasuk PPN) untuk penyerahan di titik Franco Belawan dan Dumai jatuh ke posisi Rp15.150 per kilogram pada Selasa (12/5/2026). Angka ini menunjukkan penurunan sebesar Rp175 per kilogram dari posisi Senin kemarin yang berada di level Rp15.325 per kilogram.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa tekanan terhadap rupiah berasal dari dua sisi sekaligus. Dari eksternal, eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama yang mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan ketidakpastian global. “Meningkatnya intensitas konflik di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga minyak dan ketidakpastian global, yang berdampak langsung pada tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” jelas Destry dalam pernyataan resminya.
Sementara dari dalam negeri, BI mencatat lonjakan permintaan valuta asing secara musiman turut memperberat posisi rupiah. Kebutuhan dolar AS untuk pembayaran utang luar negeri (ULN), pembagian dividen perusahaan, serta pemenuhan dana ibadah haji menjadi faktor pendorong utama.
Tekanan juga terasa di bursa acuan regional. Kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Juli di Bursa Malaysia Derivatives langsung melemah 20 ringgit atau 0,44 persen menjadi 4.496 ringgit per ton pada awal perdagangan Selasa ini. Analis Interband Group of Companies, Jim Teh, memperkirakan harga CPO akan bergerak dalam rentang 4.200 hingga 4.300 ringgit per ton dalam waktu dekat.
Meski tengah tertekan, Teh melihat adanya potensi permintaan fisik yang bisa datang dari sejumlah negara. “Permintaan fisik untuk komoditas ini diperkirakan akan datang dari China, Pakistan, India, dan mungkin beberapa negara di Timur Tengah untuk melakukan peningkatan stok di tengah krisis Asia Barat,” ujarnya kepada Bernama.
Pelaku pasar sawit kini dihadapkan pada dua variabel utama: pergerakan nilai tukar rupiah dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Jika rupiah terus tertekan, harga CPO dalam negeri berpotensi kembali turun meski permintaan global mulai menggeliat. Sebaliknya, stok minyak nabati global yang ketat bisa menjadi bantalan harga jika konflik mereda.