SANGATTA — Di tengah hiruk pikuk Sangatta yang terus bertumbuh, seorang jurnalis memilih untuk tidak hanya mengejar kecepatan. Purjianto, wartawan Kutimpost, meyakini bahwa jurnalisme membutuhkan rasa. Tanpa itu, berita hanya menjadi deretan kata tanpa makna.
Kesehariannya tak jauh dari rutinitas wartawan pada umumnya: menyusuri jalanan, menunggu informasi, mendatangi lokasi kejadian, lalu menulis. Namun, ada dua hal yang selalu menemani perjalanannya: membaca dan fotografi.
Bagi Purjianto, membaca bukan sekadar menambah pengetahuan. Dari buku, artikel, hingga cerita sederhana di warung kopi, semua itu melatih kepekaannya memahami manusia. Sementara fotografi menjadi cara lain untuk merekam momen yang lebih jujur dari seribu kalimat.
"Wajah lelah petani di bawah terik matahari, pedagang kecil yang tetap tersenyum menunggu pembeli, atau jalanan Sangatta yang perlahan berubah dari waktu ke waktu, semuanya memiliki cerita yang layak diabadikan," ujarnya.
Dari semua rutinitas, kebiasaan nongkrong di warung kopi menjadi yang paling berkesan. Bagi seorang jurnalis, tempat itu adalah ruang bertemunya berbagai kisah kehidupan. Di sana, obrolan mengalir tanpa sekat antara petani, pedagang, hingga pejabat.
"Saya senang duduk berlama-lama sambil menyeruput kopi, mendengar mereka bercerita. Tidak selalu tentang politik atau peristiwa besar. Kadang justru cerita sederhana tentang keluarga, perjuangan hidup, dan harapan masa depan yang paling membekas," kata Purjianto.
Dari warung kopi, Purjianto belajar bahwa berita sejatinya adalah tentang manusia. Tentang bagaimana masyarakat menjalani hidup di tengah perubahan zaman, tentang keresahan kecil yang jarang terdengar, dan tentang mimpi-mimpi sederhana yang terus diperjuangkan.
Sebagai wartawan media online, ritme kerja memang cepat. Informasi harus segera dikumpulkan, diverifikasi, lalu dipublikasikan. Namun, ia percaya bahwa di balik kecepatan itu, jurnalisme tetap membutuhkan rasa.
"Mungkin itulah alasan mengapa saya masih menikmati kebiasaan sederhana membaca buku, memotret suasana jalanan, dan duduk di warung kopi hingga larut malam. Sebab dari tempat-tempat sederhana itulah sering lahir pemahaman baru tentang kehidupan," tutupnya.
Di Sangatta, kota yang terus tumbuh ini, Purjianto melihat banyak cerita yang belum selesai ditulis. Tentang masyarakat yang bekerja keras, anak muda yang mengejar mimpi, hingga perubahan daerah yang bergerak perlahan namun pasti. Dan sebagai jurnalis, ia hanya mencoba menjadi saksi kecil dari perjalanan itu.