SAMARINDA — PT Jamkrida Kalimantan Timur (Kaltim) mencatatkan lonjakan laba bersih setelah pajak pada tahun buku 2024 dan 2025. Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) bidang penjaminan ini mengantongi laba Rp10,03 miliar di 2024, melesat 166,84 persen dari target awal. Capaian itu berlanjut di 2025 dengan laba bersih Rp12,74 miliar, setara 126,99 persen dari target yang direncanakan.
Direktur Utama PT Jamkrida Kaltim Agus Wahyudin membeberkan ketahanan finansial perseroan saat presentasi penjurian TOP BUMD Awards 2026, Senin (9/2/2026). “Kinerja tersebut, menunjukkan ketahanan perusahaan dalam menjaga profitabilitas, meskipun beban klaim meningkat menjadi Rp6,48 miliar,” kata Agus.
Lonjakan laba ini menjadi kebangkitan setelah perusahaan sempat tertekan berat pada masa pandemi Covid-19 2020–2021. Agus menyebut, seluruh entitas BUMD dan pemerintah daerah Kaltim kini rutin berkoordinasi untuk menyamakan persepsi, mencegah tumpang tindih eksekusi program penjaminan.
Manajemen mengaku memperkuat tata kelola komunikasi lintas sektor sebagai fondasi utama. Pejabat eksekutif dan analis diwajibkan mengantongi sertifikat profesi resmi yang mematuhi standar Good Corporate Governance (GCG) dari Otoritas Jasa Keuangan.
“Semua kinerja positif tersebut tetap terjaga meskipun perusahaan sempat menghadapi tekanan berat pada masa pandemi COVID-19 2020–2021, dan kemudian berhasil bangkit dengan mencatatkan laba tertinggi sebesar Rp10,03 miliar pada tahun buku 2024,” pungkas Agus Wahyudin.
PT Jamkrida Kaltim terlibat langsung menggawangi program kredit bunga nol persen di sejumlah daerah. Beberapa di antaranya adalah Kredit BERTUAH di Samarinda, MERANTI di Kutai Kartanegara, KBK di Bontang, serta TUNAS di Paser.
Penyampaian informasi yang transparan, menurut Agus, membuat masyarakat mudah memantau kiprah perusahaan dalam memodali pelaku usaha mikro. Sejak berdiri sembilan tahun lalu, Perseroda penjaminan ini telah menyetor Pendapatan Asli Daerah (PAD) senilai total Rp8,34 miliar.