Rupiah Terperosok ke Rp 17.864, BCA dan Mandiri Patok Kurs Jual di Atas Rp 17.900

Penulis: Hendra Setiawan  •  Selasa, 02 Juni 2026 | 11:20:01 WIB
Rupiah melemah ke posisi Rp 17.864 per dolar AS pada pagi hari di Kalimantan Timur.

KALIMANTAN TIMUR — Pukul 09.38 WIB, rupiah terpantau di posisi Rp 17.864 per dolar AS. Angka ini melanjutkan tekanan terhadap mata uang Garuda yang sudah berlangsung beberapa pekan terakhir. Yang menarik, pelemahan kurs tidak diikuti bursa saham. IHSG mencatatkan penguatan ke 6.217, menunjukkan divergensi antara pasar uang dan pasar modal di awal sesi.

Kurs di Tiga Bank: BCA Paling Ketat, Mandiri dan BNI Kompetitif

Bagi Anda yang hendak menukar dolar hari ini, simak kurs di tiga bank utama. BCA menawarkan kurs jual e-Rate di Rp 17.898 per dolar AS, dengan kurs beli Rp 17.878. Selisih atau spread yang harus dibayar nasabah yang membeli dolar lewat e-Banking cukup tipis, hanya Rp 20.

Untuk transaksi tunai di kantor cabang (TT Counter), BCA mematok harga jual lebih tinggi, yakni Rp 17.940, dengan kurs beli Rp 17.690. Bank Mandiri menawarkan kurs jual TT Counter di level yang sama, Rp 17.940, namun kurs belinya lebih rendah, Rp 17.640. BNI juga tak ketinggalan, dengan kurs jual bank notes di Rp 17.925 dan kurs beli Rp 17.625.

Nasabah Besar Bisa Dapat Harga Spesial

Untuk transaksi valas bernilai besar, ada kabar baik. Mandiri menyediakan special rate bagi nasabah yang bertransaksi di atas 25.000 dolar AS. Kurs jual special rate Mandiri tercatat Rp 17.895, lebih murah 45 poin dibandingkan kurs e-Rate BCA. Kurs belinya di Rp 17.865. Ini bisa menjadi pilihan bagi importir atau perusahaan yang perlu mengamankan kebutuhan dolar dalam jumlah besar.

Meski demikian, bank menegaskan bahwa kurs tersebut bersifat indikasi. Nasabah tetap perlu menghubungi cabang untuk mendapatkan kurs pasti yang berlaku saat transaksi.

Tekanan Global vs. Sinyal Domestik

Pelemahan rupiah pagi ini masih sejalan dengan penguatan indeks dolar AS di pasar global. Namun, penguatan IHSG memberikan sinyal bahwa investor masih optimistis terhadap prospek ekonomi domestik, setidaknya di sektor riil dan saham. Divergensi ini kerap terjadi ketika aliran modal asing lebih banyak masuk ke pasar saham ketimbang pasar obligasi atau valas.

Bagi pelaku bisnis yang memiliki kewajiban dalam dolar, pelemahan ini jelas menambah beban biaya. Sebaliknya, eksportir bisa menikmati nilai tukar yang lebih menguntungkan. Pantau terus pergerakan kurs, karena volatilitas masih tinggi di tengah ketidakpastian suku bunga global.

Reporter: Hendra Setiawan
Sumber: money.kompas.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top