SAMARINDA — Sepinya aktivitas jual beli di Pasar Pagi menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Samarinda. Rencana evaluasi menyasar dua aspek utama yang dinilai paling berpengaruh terhadap rendahnya minat pengunjung, yakni pengelolaan area parkir dan jumlah lapak kosong yang belum terisi.
Sejumlah pedagang yang sudah kembali berjualan mengeluhkan sistem parkir yang dinilai kurang tertata. Tarif parkir yang diterapkan dan keterbatasan akses masuk kendaraan disebut menjadi faktor utama pembeli enggan datang ke Pasar Pagi.
“Kalau parkirnya susah dan mahal, orang malas mampir. Padahal dagangan kami sudah lengkap lagi,” ujar seorang pedagang yang enggan disebutkan namanya.
Data sementara menunjukkan masih banyak lapak kosong di sejumlah blok Pasar Pagi. Kondisi ini kontras dengan masa sebelum revitalisasi, di mana hampir seluruh lapak terisi dan perputaran uang di pasar ini tergolong tinggi.
Pemkot Samarinda melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan akan memetakan ulang kebutuhan lapak serta menawarkan insentif bagi pedagang yang belum kembali. Evaluasi ini diharapkan rampung dalam waktu dekat agar Pasar Pagi kembali bergairah sebagai pusat ekonomi warga.
Pasar Pagi merupakan salah satu ikon perdagangan tradisional di Samarinda. Revitalisasi yang dilakukan sebelumnya bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan dan daya saing dengan pusat perbelanjaan modern. Namun, hasil di lapangan menunjukkan kebijakan tata kelola pasca-revitalisasi justru belum mampu menarik kembali pengunjung setia.
Pemkot berjanji akan melibatkan asosiasi pedagang dalam setiap tahap evaluasi. Langkah ini diambil agar kebijakan yang dihasilkan tidak memberatkan pedagang kecil dan tetap menguntungkan pembeli.
Apa penyebab utama Pasar Pagi Samarinda sepi pengunjung?
Penyebab utama adalah sistem parkir yang tidak nyaman dan tarif yang dikeluhkan pengunjung, serta banyaknya lapak kosong yang membuat pilihan barang terbatas.
Apa langkah Pemkot Samarinda selanjutnya?
Pemkot akan mengevaluasi tata kelola parkir dan memberikan insentif bagi pedagang untuk mengisi lapak kosong, dengan target mengembalikan keramaian pasar tradisional tersebut.