KALIMANTAN TIMUR — Masalah stunting masih menjadi pekerjaan rumah besar di Indonesia. Di Desa Bakungan, Kecamatan Karangdowo, Klaten, upaya menekan angka stunting dilakukan lewat pendekatan yang lebih menyeluruh, tidak sekadar memberi makanan tambahan.
Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Surakarta menggelar pelatihan bagi 25 kader kesehatan setempat. Program yang berlangsung sepanjang Agustus 2026 ini memadukan edukasi gizi dan stimulasi perkembangan anak.
Para kader mendapat pelatihan membuat Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan nugget daging. Protein hewani dari daging dikenal efektif mendukung pertumbuhan balita, terutama yang mengalami gizi kurang.
Tim dosen yang memimpin kegiatan ini adalah Eni Sulastri, SST, M.Keb dan Siti Yulaikah, S.Si.T, M.Keb. Mereka berkolaborasi dengan praktisi gizi Anggalih Sarwo Utomo. "Program ini merupakan bentuk komitmen perguruan tinggi dalam mendukung percepatan penurunan angka stunting," ujar Eni Sulastri.
Pelatihan tidak berhenti pada soal makanan. Para kader juga dibekali cara melakukan stimulasi motorik kasar dan halus untuk balita usia 1-5 tahun. Berbagai alat permainan edukatif digunakan agar orang tua bisa mempraktikkannya secara mandiri di posyandu.
Kepala Puskesmas Karangdowo, dr. Fitriah Siti Aisyah, menyambut baik inisiatif ini. Menurutnya, keterampilan stimulasi sangat dibutuhkan pada masa emas pertumbuhan anak. "Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan keterampilan ibu dalam pemberian makanan tambahan kaya protein, sekaligus terampil melakukan stimulasi motorik," jelasnya.
Setelah pelatihan selesai, tim dosen tidak langsung berhenti. Sejak 6 Agustus, mereka melakukan monitoring dan evaluasi di setiap posyandu untuk memastikan ilmu yang diberikan benar-benar diterapkan. Evaluasi mencakup praktik pemberian PMT, stimulasi motorik, hingga pemantauan pertumbuhan balita.
Sebagai bentuk dukungan berkelanjutan, lima paket permainan edukatif diserahkan kepada Pemerintah Desa Bakungan. Paket ini nantinya didistribusikan ke lima posyandu yang tersebar di desa tersebut.
Salah seorang kader, Suharni, mengaku mendapat banyak manfaat dari pelatihan ini. Ilmu yang diperoleh bisa langsung dipraktikkan dalam pelayanan posyandu sehari-hari, membantu upaya pencegahan stunting di tingkat desa.
Program ini menjadi pengingat bahwa penanganan stunting membutuhkan sinergi banyak pihak. Orang tua di rumah pun bisa meniru langkah sederhana ini: memastikan asupan protein hewani anak tercukupi dan meluangkan waktu untuk stimulasi motorik setiap hari.