KALIMANTAN TIMUR — Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyatakan keberhasilan Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) tidak diukur dari dokumen kesepakatan, melainkan dari dampak konkret terhadap kehidupan warga. Dalam pidatonya di Markas Besar ASEAN, Jakarta, Sabtu (8/8), ia menekankan organisasi itu harus menghadirkan manfaat nyata di tengah gejolak krisis global.
"Keberhasilan ASEAN akan diukur dari kemampuannya membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pangan keluarga, memperoleh pekerjaan yang layak, hidup dengan aman, serta menatap masa depan dengan penuh keyakinan," ujar Sugiono dalam keterangan resmi Kementerian Luar Negeri RI.
Menlu menegaskan ASEAN perlu memperkuat kapasitas institusi untuk melindungi masyarakat dari dampak dinamika global. Fokus utama mencakup penguatan ketahanan pangan dan energi, jaminan perlindungan warga negara saat krisis, serta penyiapan generasi muda lewat pendidikan dan pengembangan keterampilan.
Menurut Sugiono, generasi penerus harus dibekali kepercayaan diri untuk memimpin ASEAN di masa mendatang. Hal ini menjadi prasyarat agar kawasan tidak sekadar bertahan, tetapi berkembang di tengah persaingan geopolitik yang semakin tajam.
Ia menegaskan ASEAN tidak boleh memihak salah satu kekuatan besar ataupun menjadi medan rivalitas. Organisasi yang didirikan pada 1967 ini dinilai memiliki modalitas penting untuk menavigasi situasi dunia yang kompleks, dengan berpegang pada prinsip persatuan, perdamaian, dan dialog.
"Dunia saat ini membutuhkan bridge-builder yang mampu meredakan ketegangan, menumbuhkan kepercayaan, dan menjaga dialog tetap berjalan. Inilah peran yang telah dimainkan ASEAN selama hampir enam dekade," tuturnya.
Hampir enam dekade sejak berdiri, arsitektur kawasan yang dibangun ASEAN dinilai terus berkembang dan beradaptasi. Sentralitas ASEAN disebut semakin dipercaya sebagai jangkar perdamaian dan stabilitas, sebuah aset yang tidak dimiliki blok regional lain.
Peringatan ke-59 Hari ASEAN tahun ini menjadi istimewa karena merupakan pertama kalinya dihadiri sebelas negara anggota. Timor-Leste resmi bergabung pada November 2025, menandai perluasan keanggotaan pertama dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Acara tersebut dihadiri Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn, komunitas diplomatik negara anggota di Jakarta, serta perwakilan berbagai misi diplomatik. Kehadiran mereka menjadi simbol komitmen kolektif memperkuat integrasi kawasan.
Ke depan, Sugiono menekankan ASEAN harus mampu menentukan arahnya sendiri sambil memperkuat institusi, kapasitas, dan sumber daya untuk mewujudkan Visi Komunitas ASEAN 2045. Organisasi ini dituntut adaptif tanpa kehilangan identitas sebagai platform dialog utama di Indo-Pasifik.