KUTAI BARAT — Personel Polsek Melak bersama Brimob Kompi 2 Sat Brimob Polda Kaltim, BPBD Kubar, KPHP Mook Manaar Bulatn, dan warga setempat bergerak ke lokasi begitu laporan masuk. Medan gambut dan vegetasi pakis kering di kawasan itu membuat api menyebar cepat, memaksa petugas bekerja di tengah gelap malam.
Kombinasi semak belukar, pakis kering, dan lapisan tanah gambut menjadi faktor utama sulitnya pemadaman. Api tidak hanya menjalar di permukaan, tetapi juga berpotensi bertahan di bawah tanah.
Karena itu, setelah kobaran utama dijinakkan, tim tidak langsung meninggalkan lokasi. Proses pendinginan atau cooling down dijalankan hingga pukul 07.30 WITA untuk memastikan tidak ada bara tersisa yang bisa memicu titik api baru.
Pendataan awal dan pemantauan udara memperkirakan luas area yang terbakar mencapai 10 hektare. Area tersebut diduga milik warga, namun pihak berwenang belum memastikan status kepemilikannya.
Penanganan darurat melibatkan armada dari sejumlah pihak. Tiga unit mobil tangki air dari PT TDJ, satu unit water tank PT MIL, empat armada pemadam BPBD Kubar, dan dua armada KPHP MMB dikerahkan ke titik kebakaran.
Kapolsek Melak menegaskan bahwa kecepatan respons lintas sektor menentukan hasil pemadaman malam itu. Menurutnya, koordinasi yang rapat mencegah api menyebar ke area yang lebih luas.
"Sinergi dan respons cepat seluruh unsur sangat diperlukan dalam penanganan Karhutla. Dengan koordinasi yang baik, api dapat segera dikendalikan sehingga tidak meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar," tegas Kapolsek Melak.
Polsek Melak bersama instansi terkait mencatat titik koordinat lokasi kebakaran sebagai bahan pemantauan. Patroli berkala di area rawan karhutla akan ditingkatkan untuk mencegah kejadian serupa.
Kepolisian mengimbau warga tidak membuka lahan dengan cara membakar. Warga juga diminta segera melaporkan jika melihat kepulan asap di sekitar permukiman atau kawasan hutan.