Pencarian

Kabut Asap Selimuti 8 Daerah Kaltim 15-19 September, BPBD Sebut Bukan Karhutla Baru

Rabu, 23 September 2026 • 07:16:01 WIB
Kabut Asap Selimuti 8 Daerah Kaltim 15-19 September, BPBD Sebut Bukan Karhutla Baru
Kabut asap menyelimuti sejumlah daerah di Kalimantan Timur pada 15–19 September.

SAMARINDA — Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, menjelaskan bahwa asap dari kebakaran yang terjadi sebelumnya belum sepenuhnya hilang dari atmosfer. Partikel asap itu berada pada lapisan tertentu dan bisa kembali turun ke permukaan ketika cuaca mendukung.

"Bukan karena pada saat itu kebakaran yang ada di wilayah Samarinda atau sekitar situ, tapi akibat turunnya asap yang ada di atmosfer," kata Buyung dalam agenda Press Release Penanganan Karhutla dan Kekeringan Provinsi Kaltim Tahun 2026, Selasa (22/9/2026).

Proses Inversi Bikin Asap Turun Mendekati Permukaan

Tertutupnya awan di wilayah Kalimantan selama 15-19 September lalu memicu proses inversi. Sinar matahari terhalang, dan asap yang tertahan di atmosfer turun mendekati permukaan tanah.

Fenomena serupa berdampak di Kutai Kartanegara, Paser, Kutai Barat, Mahakam Ulu, Balikpapan, Kutai Timur, dan Bontang. Jarak pandang di sejumlah titik menurun, bahkan pernah kurang dari 500 meter.

"Pada saat itu asap akan turun ke bawah sehingga beberapa hari kemarin kelihatan seperti sangat pekat," ujarnya.

Udara Membaik Bukan Berarti Asap Hilang

Ketika tutupan awan kembali terbuka, sinar matahari membuat asap naik lagi ke atmosfer. Kondisi udara pun tampak membaik, meski asap belum sepenuhnya hilang.

Buyung meminta warga tetap waspada terhadap perubahan kualitas udara, terutama pada pagi hari. Asap masih berada di atmosfer dan berpotensi turun kembali saat kondisi cuaca memungkinkan.

"Untuk menghilangkan asap yang ada di atmosfer tadi perlu hujan yang masif dan tidak cukup dalam satu hari," jelasnya.

Dampak ke Penerbangan hingga Sekolah

Kabut asap sempat mengganggu aktivitas warga Kaltim. Selain menurunkan jarak pandang, kondisi itu berdampak terhadap penerbangan dan kegiatan pendidikan.

Data BPBD Kaltim hingga 21 September mencatat sekitar 1.470 titik karhutla dengan luas lahan terbakar 6.333 hektare. Sebagian besar lahan yang terbakar berada di luar kawasan hutan.

El Nino Perparah Kekeringan

Buyung menyebut kemarau El Nino menyebabkan kekeringan ekstrem di Kaltim. Vegetasi di bawah menjadi sangat kering dan mudah terbakar.

"Kondisi kemarau El Nino ini menyebabkan terjadinya kekeringan ekstrem. Jadi vegetasi di bawah ini sangat kering hingga sangat mudah terbakar. Efek dari pada kekeringan itu akan muncul gampangnya atau mudahnya terbakarnya lahan," pungkasnya.

BPBD Kaltim mengimbau masyarakat memantau kualitas udara harian dan mengurangi aktivitas luar ruangan pada pagi hari selama potensi asap turun masih ada.

Follow faktasamarinda.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: klikkaltim.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks