KALIMANTAN TIMUR — Cinta Laura terjun langsung ke lokasi pengungsian korban gempa di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Kedatangannya bukan sekadar menyalurkan bantuan, tapi juga menghibur anak-anak pengungsi yang terdampak bencana.
Aksi sosial Cinta Laura kali ini menyentuh wilayah pelosok Nusa Tenggara Timur. Artis yang dikenal vokal soal isu kemanusiaan itu menyambangi warga yang masih bertahan di tenda pengungsian pascagempa di Sumba Barat Daya.
Kunjungan tersebut membawa dua misi sekaligus: menyalurkan bantuan logistik dan menghadirkan keceriaan bagi anak-anak yang kehilangan tempat tinggal. Momen kebersamaan itu terekam dalam sejumlah foto yang dibagikan ke publik.
Gempa yang mengguncang wilayah Sumba Barat Daya meninggalkan dampak besar bagi warga setempat. Banyak keluarga harus mengungsi karena rumah mereka rusak atau tidak lagi aman untuk ditinggali.
Cinta Laura datang membawa bantuan berupa kebutuhan pokok dan perlengkapan sehari-hari. Penyaluran dilakukan langsung ke titik pengungsian, bukan lewat perantara, sehingga warga bisa segera merasakan manfaatnya.
Selain menyerahkan bantuan, Cinta Laura menyempatkan diri bermain dan berbincang dengan anak-anak pengungsi. Ia tampak akrab, duduk bersama mereka, dan mencoba mengalihkan perhatian dari suasana duka pascabencana.
Anak-anak korban gempa termasuk kelompok paling rentan. Mereka kehilangan rutinitas, sekolah terhenti sementara, dan sering kali menyimpan rasa takut yang sulit diungkapkan. Kehadiran figur yang mereka kenal bisa membantu memulihkan rasa aman.
Pemulihan pascagempa tidak hanya soal membangun kembali rumah. Dukungan psikologis untuk anak-anak sama pentingnya, terutama pada minggu-minggu awal setelah bencana.
Kegiatan sederhana seperti bermain, menggambar, atau bernyanyi bisa menjadi terapi ringan untuk mengurangi trauma. Orang tua di pengungsian juga perlu didampingi agar bisa mendampingi anak-anak mereka dengan tenang.
Kehadiran Cinta Laura di lokasi bencana memberi perhatian lebih besar pada kondisi pengungsi di Sumba Barat Daya. Sorotan publik biasanya membantu mempercepat distribusi bantuan dari berbagai pihak.
Namun, cara Cinta Laura menyapa warga secara langsung menunjukkan bahwa bantuan tidak selalu soal jumlah. Kehadiran, perhatian, dan waktu yang diberikan juga punya nilai tersendiri bagi korban bencana.
Anak-anak yang mengalami bencana bisa menunjukkan perubahan perilaku, seperti sulit tidur, mudah menangis, atau menarik diri. Orang tua sebaiknya tidak mengabaikan tanda-tanda ini.
Jika anak terus menunjukkan gejala stres berat lebih dari beberapa minggu, konsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan jiwa sangat dianjurkan. Pendampingan profesional membantu anak pulih lebih cepat.
Kunjungan Cinta Laura ke Sumba Barat Daya menjadi pengingat bahwa korban gempa masih membutuhkan perhatian jangka panjang. Bantuan logistik memang penting, tapi memulihkan semangat anak-anak juga tak kalah berarti.