KALIMANTAN TIMUR — Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan ekonomi negara berkembang di Asia dan Pasifik tumbuh 5% secara riil pada 2026. Taiwan menempati posisi teratas dengan proyeksi pertumbuhan 11%, disusul Kirgizstan dan Vietnam. Indonesia masuk daftar 15 negara dengan pertumbuhan tercepat di kawasan, diproyeksikan tumbuh 5,2%.
Laporan ADB yang dirangkum Visual Capitalist menempatkan Taiwan sebagai negara dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi tertinggi di Asia. Capaian itu ditopang investasi berkelanjutan di bidang kecerdasan buatan (AI) dan tingginya permintaan semikonduktor, terutama dari Amerika Serikat. Vietnam menyusul dengan pertumbuhan yang didorong aktivitas manufaktur, ekspor, dan permintaan domestik.
Ketiga negara itu memimpin daftar negara dengan proyeksi ekspansi ekonomi terkuat di kawasan. Taiwan mendapat dorongan dari sektor teknologi, sementara Vietnam mengandalkan basis manufaktur dan ekspornya. Kirgizstan melengkapi posisi tiga besar dengan pertumbuhan yang ditopang aktivitas ekonomi regional.
Sejumlah negara di Asia Tengah dan Asia Selatan juga diproyeksikan mencatat pertumbuhan ekonomi yang solid. Tajikistan, Uzbekistan, dan India masing-masing diperkirakan tumbuh 7%. Bhutan menyusul dengan proyeksi pertumbuhan 6,5%.
Pertumbuhan India didukung permintaan investasi dan ekspor jasa. Negara-negara Asia Tengah memperoleh manfaat dari aktivitas domestik, investasi, dan hubungan ekonomi regional yang menguat.
Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia diproyeksikan tumbuh 5,2%, lebih tinggi dibandingkan Singapura sebesar 5% dan Malaysia sebesar 4,9%. Konsumsi domestik tetap menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Singapura dan Malaysia mendapat dukungan dari investasi, perdagangan, dan aktivitas sektor jasa. Proyeksi Indonesia yang lebih tinggi mencerminkan peran pasar domestik yang besar di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Meski prospek pertumbuhan masih relatif kuat, sejumlah risiko tetap membayangi perekonomian Asia. Lonjakan biaya energi, ketegangan geopolitik, kondisi keuangan yang lebih ketat, dan ketidakpastian perdagangan global berpotensi menekan aktivitas ekonomi negara-negara di kawasan tersebut.
Bagi investor, proyeksi ADB ini menjadi acuan dalam menimbang alokasi aset di kawasan Asia. Negara dengan pertumbuhan tinggi seperti Taiwan dan Vietnam menawarkan daya tarik tersendiri, terutama di sektor teknologi dan manufaktur. Indonesia, dengan konsumsi domestik yang kuat, tetap menjadi tujuan investasi yang relatif stabil di Asia Tenggara.