KALIMANTAN TIMUR — BYD, Hyundai, dan Wuling menempati urutan teratas merek mobil listrik yang paling diminati konsumen kelas menengah atas Indonesia, masing-masing dipilih 49%, 46%, dan 32% responden studi Populix. Minat terhadap kendaraan listrik kini mencapai 74%, naik signifikan dibanding studi serupa tahun lalu yang masih menempatkan infrastruktur pengisian daya sebagai pertimbangan utama. Sebanyak 72% responden bahkan mengaku tidak lagi khawatir soal ketersediaan stasiun pengisian daya.
Laporan bertajuk "Decoding Indonesia's Upper Middle MZs Consumer Signals in the Passenger Car Market" itu melibatkan 800 konsumen mobil kelas menengah atas yang seluruhnya sudah memiliki kendaraan pribadi dan melakukan pembelian dalam lima tahun terakhir. Responden tersebar di Jabodetabek, Jawa di luar Jabodetabek, dan luar Jawa, dengan mayoritas berusia 25-45 tahun, sudah menikah, dan memiliki dua anak.
Associate Research Director Populix Susan Adi Putra menyebut pasar mobil konvensional masih menguasai sebagian besar penjualan. Meski begitu, kendaraan listrik dan hybrid mulai menemukan momentumnya di segmen konsumen muda.
"Satu dari lima responden mengaku tertarik memiliki mobil listrik maupun hybrid, khususnya milenial muda dan Gen Z di rentang usia 25-35 tahun," kata Susan dalam pemaparan hasil studi.
Angka ketertarikan terhadap kendaraan listrik secara umum mencapai 74% responden. Rinciannya, 27% mengaku sangat tertarik dan 47% tertarik. Kelompok yang paling antusias adalah konsumen muda perempuan di Pulau Jawa.
Dari sisi merek, BYD memimpin dengan 49% responden menyatakan melirik merek asal China itu. Hyundai menyusul di posisi kedua dengan 46%, disusul Wuling di angka 32%.
Ketiga merek tersebut memang aktif mengisi pasar mobil listrik Indonesia dengan rentang harga yang bersaing di segmen menengah. BYD menawarkan lini Atto, Dolphin, hingga Seal, sementara Hyundai punya Ioniq 5 dan Wuling mengandalkan Air EV serta BinguoEV.
Susan menilai pergeseran kekhawatiran soal infrastruktur jadi penanda penting. Pada studi Populix tahun sebelumnya, ketersediaan stasiun pengisian daya masih menjadi poin utama yang dipertimbangkan konsumen sebelum membeli mobil listrik.
"Mereka juga sudah tidak terlalu khawatir mengenai infrastruktur pengisian daya, yang pada studi Populix tahun lalu masih menjadi poin penting dalam pertimbangan pembelian mobil listrik," ungkap Susan.
Inovasi teknologi ikut mengubah cara konsumen memandang produk otomotif. Sebanyak 73% responden mengaku nyaman memiliki mobil dengan teknologi mutakhir, dan 45% menyatakan sangat tertarik mencoba teknologi baru — mayoritas dari kelompok usia 25-35 tahun.
Preferensi bodi mobil belum bergeser jauh. MPV dan SUV masih mendominasi pilihan konsumen kelas menengah atas. Mobil umumnya dipakai untuk bekerja dengan frekuensi enam hari dalam sepekan, dengan rata-rata jarak tempuh 17,6 km per hari.
Minat konsumen yang menguat sejalan dengan tren penjualan. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat kenaikan penjualan sepanjang Januari-September 2026 sebesar 21% dari sisi wholesale dan 15,4% secara ritel.
Peningkatan terlihat pada Agustus dan September. Data itu memberi gambaran bahwa pasar mobil nasional masih bergerak positif di tengah peralihan preferensi menuju kendaraan elektrifikasi.