Pencarian

ALVA Beber Tantangan Industri Motor Listrik dan TKDN di Depan DPR RI

Jumat, 25 September 2026 • 19:46:01 WIB
ALVA Beber Tantangan Industri Motor Listrik dan TKDN di Depan DPR RI
Kunjungan kerja Komisi VII DPR RI ke pabrik ALVA di Cikarang, Kabupaten Bekasi.

KALIMANTAN TIMUR — Kunjungan kerja Komisi VII DPR RI ke pabrik ALVA di Cikarang mengungkap satu kenyataan yang jarang dibahas publik: kapasitas produksi 100.000 unit per tahun ternyata belum cukup mendongkrak TKDN ke level yang diinginkan. Produsen motor listrik ini mengakui ukuran pasar dan kesiapan pemasok lokal masih jadi penghambat utama, meski jaringan pengisian dayanya sudah tumbuh hampir empat kali lipat dalam setahun.

PT Ilectra Motor Group lewat merek ALVA menerima kunjungan kerja Panitia Kerja Rancangan Undang-Undang Kawasan Industri Komisi VII DPR RI di Kawasan Industri Lippo Cikarang, Kabupaten Bekasi. Agenda ini menjadi forum bagi legislatif untuk mendengar langsung pengalaman pelaku industri motor listrik nasional, bukan sekadar paparan data dari kementerian.

Fasilitas manufaktur ALVA di Cikarang mencatat kapasitas produksi hingga 100.000 unit per tahun. Pabrik ini sudah menerapkan prinsip smart manufacturing berbasis Industri 4.0 dan mengantongi standar ISO 9001:2015 serta ISO 14001:2015.

Kenapa TKDN ALVA Baru di Atas 40 Persen

Seluruh lini produk ALVA mengantongi nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri di atas 40 persen. Komponen lokal yang dipakai mencakup rangka, panel bodi, sistem pengereman, hingga pasokan dari dua Industri Kecil dan Menengah binaan Kementerian Perindustrian yang memproduksi battery box dan battery bracket.

Angka itu terdengar positif, tapi ALVA sendiri mengakui ada tembok yang sulit ditembus untuk menaikkannya lebih tinggi. Empat faktor yang dipaparkan ke DPR RI:

  • Ukuran pasar motor listrik domestik yang masih berkembang
  • Kesiapan pemasok lokal untuk komponen berteknologi lebih tinggi
  • Kebutuhan investasi tooling yang besar
  • Perlunya kepastian arah kebijakan pemerintah

Empat poin ini saling berkait. Tanpa volume penjualan yang besar, investasi tooling untuk komponen baru sulit balik modal. Tanpa kepastian kebijakan jangka panjang, pemasok lokal juga enggan menanam modal di lini produksi khusus komponen motor listrik.

Ekosistem Jadi Kunci, Bukan Cuma Kemampuan Produksi

Chief Executive Officer ALVA, Purbaja Pantja, menekankan bahwa membangun industri kendaraan listrik tidak berhenti di lini perakitan. Menurutnya, ekosistem yang terhubung dari hulu ke hilir menentukan apakah industri ini bisa tumbuh berkelanjutan atau tidak.

"Pengembangan industri kendaraan listrik tidak hanya tentang kemampuan memproduksi kendaraan, tetapi juga bagaimana kita membangun ekosistem yang mendukung pertumbuhannya secara berkelanjutan," ujar Purbaja, Jumat (25/9/2026).

Pernyataan itu sejalan dengan kondisi lapangan. ALVA menyebut keberadaannya di kawasan industri memberi keunggulan akses utilitas, tenaga kerja, dan jaringan logistik. Ke depan, ALVA melihat peluang penguatan kawasan industri lewat penyediaan energi bersih, perluasan infrastruktur pengisian daya, serta pengembangan fasilitas riset bersama.

Jaringan Boost Charge Melonjak dari 150 ke 590 Konektor

Soal infrastruktur, ALVA mencatat pertumbuhan yang cukup agresif. Hingga September 2026, produsen ini menyediakan lebih dari 590 konektor Boost Charge di seluruh Indonesia. Sebagai perbandingan, tahun sebelumnya jumlahnya baru 150 konektor.

Jaringan operasionalnya kini ditopang 19 titik penjualan, 10 ALVA Experience Center, dan lebih dari 130 titik layanan purnajual. Bagi calon pembeli, angka ini penting karena motor listrik tetap bergantung pada kemudahan pengisian daya dan akses servis.

Yang Perlu Diperhatikan dari Kunjungan Ini

Paparan ALVA ke DPR RI menyoroti satu hal yang jarang muncul di iklan motor listrik: pertumbuhan infrastruktur pengisian daya tidak otomatis menyelesaikan persoalan rantai pasok. TKDN di atas 40 persen memang memenuhi syarat minimal, tapi untuk naik ke level yang benar-benar mengurangi ketergantungan impor, dibutuhkan investasi tooling dan pemasok lokal yang siap.

Kepastian kebijakan jadi variabel yang paling sering disinggung pelaku industri. Tanpa arah yang jelas soal insentif dan target jangka panjang, pemasok lokal akan menahan diri, dan TKDN akan stagnan di angka yang sama.

Follow faktasamarinda.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: amp.suara.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks