KALIMANTAN TIMUR — Memasuki usia 31 tahun, Telkomsel tak sekadar merayakan. Perusahaan yang menguasai pangsa pasar telekomunikasi terbesar di Indonesia ini justru menggenjot transformasi. Hasilnya mulai terlihat: laba bersih melesat 14,7 persen secara kuartalan (QoQ) dan EBITDA naik 5,4 persen. Momentum pemulihan ini disebut Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, sebagai buah dari fokus pada nilai pelanggan dan kualitas layanan.
Kontribusi layanan digital terhadap pendapatan mobile kini sudah menembus 95 persen. Artinya, hampir seluruh uang yang masuk ke Telkomsel berasal dari data dan layanan digital—bukan lagi dari telepon atau SMS. Trafik data pun tumbuh 15 persen secara tahunan, menandakan masyarakat Indonesia kian haus koneksi internet cepat.
Meski basis pelanggan terkonsolidasi menjadi 156,1 juta—sedikit menyusut dari tahun sebelumnya—pendapatan per pelanggan (ARPU) justru naik menjadi Rp45 ribu. Angka ini menjadi sinyal bahwa Telkomsel mulai menuai hasil dari strategi quality-led: pelanggan yang tersisa adalah mereka yang bersedia membayar lebih untuk layanan yang lebih baik.
Tak hanya mengandalkan seluler, Telkomsel juga menggenjot lini fixed broadband. Jumlah pelanggan internet rumah kini sudah melampaui 10 juta, didorong oleh penetrasi layanan konvergensi yang mencapai 59 persen. Strategi ini memungkinkan pelanggan mendapatkan paket bundling antara data seluler dan internet rumah dalam satu tagihan.
"Kami terus menjaga kepemimpinan pasar melalui fokus pada customer value, kualitas layanan broadband, dan pengalaman digital yang semakin relevan bagi masyarakat Indonesia," ujar Nugroho dalam pernyataan resmi, Rabu (20/5/2026).
Telkomsel tak hanya mengandalkan penjualan paket data. Perusahaan mulai memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mengoptimalkan jaringan dan layanan pelanggan. Integrasi ekosistem digital—mulai dari aplikasi MyTelkomsel hingga layanan fintech—menjadi pilar untuk mempercepat transformasi digital di Indonesia.
Di usia yang ke-31, Telkomsel seolah ingin membuktikan bahwa operator raksasa masih bisa gesit. Dengan laba Rp19,7 triliun dan ARPU yang terus naik, peta persaingan telekomunikasi Indonesia tahun depan dipastikan akan semakin menarik untuk diikuti.