PLTA Batoq Kelo 300 MW di Kaltim Ditargetkan Akhiri Krisis Listrik 72 Desa di Hulu Mahakam

Penulis: Ginanjar Raharjo  •  Selasa, 26 Mei 2026 | 19:31:43 WIB
PLTA Batoq Kelo 300 MW di Kaltim diharapkan mengakhiri krisis listrik di 72 desa Hulu Mahakam.

SAMARINDA — Ratusan rumah di 72 desa di pedalaman Kalimantan Timur selama ini masih bergelap saat malam tiba. Ketua DPRD Kaltim, Hasanuddin Masud, menyebut proyek PLTA Batoq Kelo menjadi satu-satunya harapan untuk memutus rantai ketimpangan energi di wilayah hulu Benua Etam tersebut.

Akar Krisis: 72 dari 100 Desa di Hulu Belum Teraliri Listrik

Data yang diungkapkan Hasanuddin Masud menunjukkan betapa timpangnya distribusi listrik di Kaltim. Dari total lebih dari 100 desa di kawasan hulu, baru sekitar 28 desa yang menikmati pasokan listrik stabil. Sisanya—72 desa—masih bergantung pada genset pribadi atau bahkan tidak memiliki akses sama sekali.

Kondisi ini berlangsung bertahun-tahun karena medan berat dan jarak yang jauh dari jaringan transmisi utama. PLTA Batoq Kelo, yang memanfaatkan aliran sungai di perbatasan Mahakam Ulu dan Kutai Barat, dirancang untuk menjangkau titik-titik paling terpencil itu.

Kapasitas 300 MW dan Janji Interkoneksi ke Desa

Proyek ini disebut akan memenuhi kebutuhan listrik untuk sekitar 750 rumah. Namun, angka itu hanyalah permulaan. Hasanuddin Masud menegaskan bahwa komitmen dari Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, sudah jelas: sistem interkoneksi PLTA Batoq Kelo akan memprioritaskan desa-desa yang belum tersentuh listrik.

"Ini sudah menjadi janji dari Direktur PLN. Kemudian Pak Hashim selaku utusan khusus Presiden bidang energi juga sudah memberikan konfirmasi," ujar pria yang akrab disapa Hamas tersebut kepada Tribunkaltim.co, Selasa (26/5/2026).

Dampak Lebih Luas: Dari Mahulu hingga IKN

Distribusi listrik dari megaproyek ini tidak terbatas pada Mahakam Ulu (Mahulu) dan Kutai Barat (Kubar). Hasanuddin Masud menyebut pasokan juga akan mengalir ke Kalimantan Utara (Kaltara) dan Ibu Kota Nusantara (IKN). Hal ini menjadikan PLTA Batoq Kelo sebagai proyek strategis lintas provinsi.

"Bahkan karena lokasinya dekat, wilayah Kaltara juga akan terpenuhi. Termasuk jajaran PLN, ini juga akan memenuhi kebutuhan untuk IKN," tambahnya.

Transisi Energi: Tenaga Air Tanpa Emisi

PLTA Batoq Kelo mengusung semangat transisi energi bersih. Berbeda dengan pembangkit berbahan bakar fosil, pembangkit ini tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca. Hasanuddin Masud mengapresiasi langkah pemerintah dan PLN yang memilih energi terbarukan untuk wilayah terpencil.

"Ini sangat bagus karena menggunakan tenaga alam, sehingga tidak ada emisi. Mudah-mudahan ke depan akan lebih banyak lagi pembangkit listrik tenaga alam atau surya," pungkasnya.

FAQ: Apa yang Perlu Diketahui Tentang PLTA Batoq Kelo?

Berapa kapasitas PLTA Batoq Kelo?
PLTA ini memiliki kapasitas 300 MW, cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik ribuan rumah dan kawasan industri di sekitarnya.

Kapan proyek ini mulai beroperasi?
Peletakan batu pertama (groundbreaking) telah dilakukan pada Senin (25/5/2026). Target operasi komersial belum diumumkan secara resmi oleh pengembang.

Reporter: Ginanjar Raharjo
Sumber: kaltim.tribunnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top