SAMARINDA — Data terbaru menunjukkan lulusan SMK masih menjadi kelompok penyumbang pengangguran tertinggi di Kalimantan Timur. Fakta ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara keterampilan yang diajarkan di bangku sekolah dengan permintaan pasar kerja di provinsi yang tengah gencar membangun ini.
Ironis memang. Sekolah kejuruan dirancang untuk mencetak tenaga kerja siap pakai, namun realitas di lapangan justru berkata lain. Salah satu faktor utama adalah pesatnya perubahan teknologi dan model bisnis, terutama di sektor industri ekstraktif dan infrastruktur yang menjadi tulang punggung ekonomi Kaltim. Kurikulum yang kaku dan belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan industri terkini menjadi salah satu penyebabnya.
Selain itu, jumlah lulusan SMK setiap tahunnya terus bertambah, sementara lapangan pekerjaan yang tersedia tidak tumbuh sebanding. Kondisi ini diperparah dengan preferensi perusahaan yang kerap mencari tenaga kerja dengan pengalaman, bukan sekadar ijazah.
Tingginya angka pengangguran di kalangan lulusan SMK bukan sekadar masalah statistik. Ini berdampak langsung pada daya beli masyarakat dan stabilitas sosial di berbagai kota seperti Samarinda, Balikpapan, dan Bontang. Para pencari kerja muda ini sering kali terjebak dalam pekerjaan di bawah kualifikasi atau memilih untuk merantau ke luar daerah.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur pun terus didorong untuk memperkuat program link and match antara SMK dengan dunia usaha dan industri (DUDI). Program magang bersertifikat dan pelatihan ulang (reskilling) menjadi salah satu solusi yang mulai digencarkan, meskipun implementasinya masih menemui banyak kendala birokrasi dan pendanaan.
Fenomena ini kontras dengan lulusan perguruan tinggi yang justru memiliki tingkat pengangguran lebih rendah. Banyak lulusan SMK yang terserap di sektor informal atau pekerjaan yang tidak sesuai dengan jurusan mereka. Sementara itu, lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) lebih fleksibel dalam memilih jalur karir karena tidak terikat pada satu keahlian spesifik.
Pemerintah daerah dan pihak sekolah dituntut untuk lebih agresif dalam memetakan kebutuhan tenaga kerja di masa depan. Sektor-sektor baru seperti ekonomi digital, energi baru terbarukan, dan pariwisata harus segera diantisipasi dengan penyiapan kurikulum yang relevan. Tanpa perubahan signifikan, angka pengangguran lulusan SMK di Kaltim diprediksi masih akan tinggi dalam beberapa tahun ke depan.
Apakah lulusan SMK di Kaltim sulit bersaing dengan lulusan dari luar daerah?
Ya, persaingan cukup ketat. Banyak perusahaan di sektor pertambangan dan migas yang lebih memilih tenaga kerja berpengalaman atau lulusan dari politeknik yang dianggap memiliki keterampilan lebih terapan.
Jurusan SMK apa yang paling banyak dicari di Kaltim?
Saat ini jurusan Teknik Kendaraan Ringan, Teknik Komputer dan Jaringan, serta Akuntansi masih cukup diminati. Namun, kebutuhan akan tenaga teknis di bidang alat berat dan logistik mulai meningkat seiring proyek Ibu Kota Nusantara (IKN).