Kapolres PPU Ajak Masyarakat Jaga Tradisi Lewat Aruh Ganal Laung Kuning, Warisan Budaya Jadi Pilar Kamtibmas

Penulis: Jauhari Lubis  •  Sabtu, 30 Mei 2026 | 16:34:49 WIB
Kapolres PPU hadir dalam ritual Aruh Ganal Laung Kuning untuk menguatkan nilai budaya lokal.

PENAJAM — Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial, tradisi leluhur di Kalimantan Timur tetap dijaga sebagai benteng karakter masyarakat. Hal ini ditegaskan langsung oleh Kapolres PPU saat menghadiri Aruh Ganal Laung Kuning, sebuah ritual adat yang sarat makna bagi warga setempat. Prosesi yang berlangsung khidmat itu menjadi panggung bagi aparat untuk menegaskan bahwa budaya lokal adalah aset strategis.

Mengapa Tradisi Adat Dianggap Penting untuk Kamtibmas?

Dalam sambutannya, Kapolres PPU menyebut bahwa seni dan tradisi lokal merupakan fondasi utama dalam membangun karakter bangsa yang kuat. Lebih dari sekadar hiburan atau warisan masa lalu, tradisi dinilai sebagai instrumen penting untuk menciptakan situasi kamtibmas yang kondusif. "Ketika masyarakat kuat dalam budayanya, mereka akan memiliki pegangan moral yang kokoh," ujarnya.

Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran akan lunturnya nilai-nilai gotong royong di perkotaan. Dengan hadir langsung di tengah masyarakat adat, kepolisian ingin menunjukkan bahwa keamanan bukan hanya soal patroli dan penegakan hukum, tetapi juga merawat ikatan sosial.

Aruh Ganal Laung Kuning: Antara Ritual dan Perekat Sosial

Aruh Ganal Laung Kuning sendiri merupakan upacara adat yang sudah mengakar di sebagian komunitas Dayak di PPU. Prosesi ini biasanya digelar sebagai bentuk syukur serta doa untuk keselamatan dan kemakmuran bersama. Bagi warga, acara ini menjadi momen berkumpulnya lintas generasi, memperkuat kembali tali silaturahmi yang mungkin mulai renggang.

Kapolres menambahkan, nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi seperti musyawarah, gotong royong, dan saling menghormati sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai inilah yang menjadi modal sosial untuk mencegah konflik dan menjaga kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk.

Sinergi Aparat dan Tokoh Adat: Kunci Ketahanan Budaya

Kehadiran Kapolres PPU di acara Aruh Ganal Laung Kuning bukanlah seremonial belaka. Langkah ini merupakan bagian dari strategi kepolisian untuk mendekatkan diri dengan tokoh adat dan masyarakat. Kemitraan antara aparat keamanan dan pemangku adat dinilai efektif untuk menyampaikan pesan-pesan kamtibmas melalui kanal yang sudah dipercaya warga.

Di Kalimantan Timur, yang tengah bertransformasi menjadi wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), tekanan terhadap identitas budaya lokal semakin besar. Oleh karena itu, menjaga tradisi seperti Aruh Ganal Laung Kuning bukan hanya soal melestarikan masa lalu, tetapi juga memastikan masyarakat memiliki akar yang kuat menghadapi perubahan.

Apa yang Terjadi Jika Generasi Muda Melupakan Tradisi?

Kekhawatiran akan tergerusnya budaya lokal menjadi isu yang kerap mengemuka. Kapolres PPU mengingatkan bahwa tanpa fondasi karakter yang kuat dari tradisi, generasi muda rentan terhadap pengaruh negatif. "Tradisi mengajarkan kita tentang batasan, sopan santun, dan tanggung jawab sosial," tegasnya.

Pelestarian budaya pun bukan hanya tugas pemerintah atau tokoh adat, melainkan seluruh elemen masyarakat. Dengan terus menggelar dan menghadiri acara seperti Aruh Ganal Laung Kuning, diharapkan nilai-nilai luhur di dalamnya terus hidup dan menjadi benteng moral bagi warga PPU ke depannya.

Reporter: Jauhari Lubis
Sumber: kaltimpost.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top