SAMARINDA — Peringatan Hari Lahir Pancasila di Balai Kota Samarinda menjadi ajang bagi Wakil Wali Kota untuk menyampaikan pesan khusus kepada generasi muda. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa semangat persatuan harus terus dirawat di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya yang menjadi ciri khas ibu kota Kalimantan Timur ini.
Pesan itu disampaikan langsung di hadapan para peserta upacara yang sebagian besar berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Wawali mengingatkan bahwa Pancasila bukan sekadar simbol negara, melainkan pedoman hidup berbangsa yang harus diimplementasikan dalam keseharian, terutama oleh generasi penerus.
Pemkot Samarinda menilai generasi muda adalah kelompok yang paling strategis untuk menerima penguatan ideologi kebangsaan. Di era digital, mereka menjadi sasaran paling rentan terhadap konten-konten yang memecah belah, mulai dari ujaran kebencian hingga hoaks bernuansa SARA.
Oleh karena itu, momen Hari Lahir Pancasila digunakan untuk menanamkan kembali nilai toleransi dan gotong royong. Wawali secara spesifik mengajak para pemuda untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dapat merusak kerukunan di Samarinda, kota yang dikenal sebagai miniatur Indonesia karena keberagaman warganya.
Kalimantan Timur, khususnya Samarinda, mengalami perubahan sosial yang cepat seiring masuknya investasi besar dan urbanisasi. Keberagaman semakin kompleks dengan hadirnya pendatang dari berbagai daerah untuk bekerja di sektor pertambangan, konstruksi, dan jasa. Kondisi ini, jika tidak diimbangi dengan pemahaman kebangsaan yang kuat, berpotensi menimbulkan gesekan antarkelompok.
Pesan Wawali tentang persatuan di tengah keberagaman menjadi relevan dalam konteks ini. Peringatan Hari Lahir Pancasila bukan sekadar seremoni, tetapi pengingat bahwa identitas kebangsaan harus menjadi perekat di tengah perbedaan latar belakang ekonomi dan budaya.
Data dari berbagai survei nasional dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya penurunan indeks toleransi di kalangan generasi muda. Polarisasi politik dan penyebaran konten intoleran di media sosial menjadi faktor utama. Samarinda, sebagai kota yang relatif plural, tidak luput dari ancaman ini.
Peringatan Hari Lahir Pancasila di Balai Kota menjadi salah satu upaya preventif Pemkot untuk membentengi pemuda dari paham radikal dan eksklusivisme. Wawali menegaskan bahwa keberagaman bukanlah ancaman, melainkan kekuatan yang harus dikelola dengan semangat Pancasila.
Pesan yang disampaikan dalam upacara tersebut diharapkan tidak berhenti di lapangan Balai Kota. Wawali mendorong generasi muda untuk menjadi agen perdamaian di lingkungan masing-masing, mulai dari sekolah, kampus, hingga komunitas daring. Langkah kecil seperti tidak menyebarkan ujaran kebencian dan aktif berdialog dengan kelompok berbeda dianggap sebagai bentuk nyata pengamalan Pancasila.
Pemkot Samarinda juga berencana melanjutkan program-program penguatan ideologi Pancasila melalui kegiatan ekstrakurikuler dan forum pemuda lintas iman. Hal ini menjadi tindak lanjut konkret dari pesan yang disampaikan dalam peringatan tahun ini.