Gestur Politik ala Presiden Prabowo Diadopsi dalam Teater Satire “Ibu Negara” Garapan Lanjong Foundation di Kalimantan Timur

Penulis: Jauhari Lubis  •  Selasa, 02 Juni 2026 | 00:04:53 WIB
Pementasan teater satire “Ibu Negara” menampilkan gestur politik Presiden Prabowo di Samarinda.

SAMARINDA — Lanjong Foundation sukses mementaskan lakon teater satire bertajuk “Ibu Negara” yang berani mengadopsi bahasa tubuh dan gestur politik Presiden Prabowo Subianto. Pertunjukan ini tidak sekadar hiburan, melainkan kritik terbuka terhadap cara kekuasaan dikomunikasikan di ruang publik. Panggung teater di Kalimantan Timur itu menjadi medium untuk membedah relasi kuasa melalui seni peran.

Dalam pementasannya, para aktor secara sengaja meniru gerakan tangan, nada bicara, hingga postur tubuh yang identik dengan gaya kepemimpinan Prabowo. Satire ini menyasar pada pola komunikasi politik yang dianggap terlalu dominan dan cenderung monolog. Penonton diajak merenung bagaimana gestur seorang pemimpin bisa menjadi simbol kekuasaan yang menekan.

Mengapa Gestur Politik Prabowo Menjadi Sasaran Kritik?

Pilihan mengadopsi gestur Presiden Prabowo bukan tanpa alasan. Lanjong Foundation melihat bahwa bahasa tubuh seorang pemimpin sering kali lebih kuat dari kata-kata yang diucapkan. Dalam konteks Indonesia, gaya orasi dan sikap tubuh Prabowo dinilai merepresentasikan pola kekuasaan yang hierarkis dan sulit ditembus.

Teater “Ibu Negara” menggunakan pendekatan satire untuk mengkritik fenomena ini tanpa harus bersifat frontal. Kritik disampaikan melalui adegan-adegan yang dibalut humor dan ironi, sehingga pesan politiknya lebih mudah diterima. Pertunjukan ini juga menyoroti bagaimana peran istri pemimpin negara kerap dijadikan alat legitimasi kekuasaan.

Seni Teater Sebagai Ruang Kritik di Kalimantan Timur

Lanjong Foundation bukanlah kelompok teater baru di Kalimantan Timur. Mereka konsisten menggunakan panggung sebagai ruang diskusi isu-isu sosial dan politik. Pementasan “Ibu Negara” menjadi salah satu contoh bagaimana seni pertunjukan bisa menjadi alat kontrol sosial yang efektif di tengah minimnya ruang kritik formal.

Pertunjukan ini juga menegaskan bahwa Kalimantan Timur, yang dikenal sebagai wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), memiliki kehidupan seni yang kritis. Alih-alih hanya menjadi penonton kebijakan pusat, para seniman lokal justru aktif merespons dinamika politik nasional. Hal ini menjadi sinyal bahwa kesenian daerah tidak pernah lepas dari konteks kekuasaan yang lebih besar.

Bagaimana Kritik Satir Bisa Mempengaruhi Wacana Publik?

Satire dalam teater memiliki kelebihan dibandingkan kritik langsung: ia bisa membungkus pesan keras dalam kemasan yang menghibur. Penonton tidak merasa digurui, tetapi perlahan memahami inti kritik yang disampaikan. Dalam kasus “Ibu Negara”, gestur politik yang tadinya dianggap wajar justru dipertanyakan kembali.

Pertunjukan ini memicu diskusi di kalangan penonton tentang batas antara kepemimpinan yang tegas dan otoriter. Banyak yang mengaku baru menyadari bahwa bahasa tubuh seorang pemimpin bisa memiliki makna politis yang dalam. Teater, dalam hal ini, berfungsi sebagai cermin bagi masyarakat untuk melihat kembali realitas kekuasaan di sekitar mereka.

Apa yang Membuat Teater “Ibu Negara” Berbeda dari Pertunjukan Politik Lainnya?

Tidak seperti drama politik pada umumnya yang cenderung serius, “Ibu Negara” justru mengedepankan unsur komedi dan satire. Pendekatan ini membuat pesan kritiknya lebih mudah dicerna oleh berbagai kalangan. Lanjong Foundation sengaja menghindari nada menggurui agar penonton bisa menarik kesimpulan sendiri.

Pementasan ini juga tidak hanya berhenti pada kritik, tetapi menawarkan ruang refleksi. Penonton diajak untuk bertanya: apakah kita terlalu terbiasa dengan gaya kepemimpinan yang monolog? Apakah ada ruang bagi suara yang berbeda dalam budaya politik kita? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang coba dijawab melalui adegan-adegan satire di atas panggung.

Reporter: Jauhari Lubis
Sumber: kaltimpost.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top