SAMARINDA — Bagi masyarakat Dayak, Sampe bukan sekadar alat musik petik yang menghibur. Instrumen yang terbuat dari kayu pilihan hutan Kalimantan ini, yang juga dikenal dengan nama Sampek, Sape, atau Kecapi, menyimpan relasi magis yang merekam jejak interaksi manusia dengan alam dan dinamika sosial. Motif ragam hias pada tubuh kayunya melambangkan daya upaya, kebesaran, serta keagungan hidup yang harmonis dengan alam sekeliling.
Mengapa Pendekatan Museum Justru Berbahaya bagi Budaya Hidup?
Ancaman terbesar, menurut Lestari, justru datang dari pendekatan pelestarian yang kaku. Jika Sampe hanya dipajang di etalase kaca, maka yang tersisa hanyalah benda mati tanpa jiwa. "Pelestarian Sampe tidak cukup hanya dengan memasukkannya ke dalam etalase museum, melainkan harus memastikan bahwa ekosistem budayanya tetap bernapas di tengah masyarakat," ujar Lestari di Samarinda.
Pemerintah, dalam hal ini, didorong untuk tidak bertindak sebagai penguasa tunggal atas kebudayaan. Sebaliknya, posisi mereka adalah sebagai fasilitator yang membuka ruang bagi partisipasi dari bawah. Lestari mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada sifat inersia yang berisiko memunculkan pengerasan identitas primordial, yang justru mengancam integrasi sosial budaya di Indonesia.
Sampe Bukan Warisan Mati: Antara Panggung Adat dan Atraksi Populer
Kebudayaan, tegas Lestari, adalah proses transformasi yang dinamis. Sampe bukanlah sekadar warisan masa lalu yang harus diawetkan, melainkan entitas hidup yang harus berpadu dengan karya kreatif kontemporer. Eksistensi ekosistem budaya ini harus terus ditegakkan melalui berbagai kanal: panggung perayaan adat yang sakral, ajang pariwisata daerah, hingga atraksi budaya populer modern.
Untuk memastikan keberlanjutan, pengarusutamaan kebudayaan harus ditanamkan secara sistemik sejak dini. "Perlindungan terhadap Sampe harus sejalan dengan pemanfaatan di masyarakat," ungkap Lestari. Jalur pendidikan menjadi kunci utama agar generasi muda tidak hanya mengenal bentuk fisik Sampe, tetapi juga memahami filosofi dan nilai yang terkandung di dalamnya.
Apa yang Terjadi Jika Ekosistem Sampe Mati?
Jika ekosistem budaya Sampe dibiarkan mati, yang hilang bukan hanya sebuah alat musik. Lebih dari itu, masyarakat Dayak kehilangan peta interaksi mereka dengan alam, simbol kebesaran, dan medium komunikasi magis yang telah diwariskan secara turun-temurun. Pelestarian yang hanya berorientasi pada benda, tanpa menghidupkan praktik dan nilai, hanya akan menyisakan replika tanpa ruh di dalam museum.