BALIKPAPAN — Poltekkes Kemenkes Kaltim menggandeng MTs Negeri 1 Balikpapan dalam sosialisasi program Satu Rumah Satu Jumantik, Senin lalu. Kegiatan ini menyasar para siswa sebagai agen perubahan di lingkungan rumah masing-masing untuk memutus rantai perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.
Program ini mendorong setiap rumah memiliki satu orang jumantik—juru pemantau jentik—yang bertugas memeriksa tempat-tempat penampungan air secara rutin. Langkah tersebut dinilai efektif karena DBD tidak bisa dicegah hanya dengan fogging, melainkan harus dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara masif.
Alih-alih hanya menyasar ibu rumah tangga, pelibatan pelajar dianggap strategis karena mereka bisa menjadi pengawas di rumah masing-masing. Para dosen Poltekkes melatih siswa cara mengenali jentik nyamuk, melakukan pemeriksaan di bak mandi, drum, dan tempat penampungan air lainnya, lalu mencatat temuan di kartu pemantauan.
“Kami ingin kebiasaan memeriksa jentik ini menjadi budaya, bukan sekadar gerakan musiman. Anak-anak lebih cepat menyerap dan bisa mengingatkan orang tua di rumah,” ujar salah satu dosen Poltekkes Kemenkes Kaltim dalam sesi sosialisasi.
Kota Balikpapan termasuk wilayah dengan kasus DBD yang fluktuatif setiap tahun. Data Dinas Kesehatan menunjukkan bahwa hampir seluruh kelurahan pernah melaporkan kasus DBD, dengan puncak biasanya terjadi pada Januari hingga April. Fogging kerap dilakukan, tetapi tanpa PSN yang konsisten, nyamuk bisa kembali berkembang biak dalam waktu singkat.
Program Satu Rumah Satu Jumantik sebenarnya sudah dicanangkan Kemenkes secara nasional. Namun, implementasi di tingkat sekolah seperti di MTs 1 Balikpapan ini diharapkan bisa mempercepat adopsi kebiasaan tersebut di kalangan keluarga muda.
Setelah pelatihan, para siswa diminta untuk mempraktikkan pemeriksaan jentik di rumah masing-masing setiap pekan. Jika ditemukan jentik, langkah selanjutnya adalah menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas yang bisa menampung air—metode 3M Plus yang sudah lama direkomendasikan pemerintah.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari penilaian praktik mata pelajaran IPA atau kegiatan ekstrakurikuler kesehatan. Dengan begitu, kesadaran tentang bahaya DBD tidak hanya dihafal, tetapi benar-benar diterapkan dalam keseharian.