BONTANG — Pemerintah Kota Bontang memperkuat layanan kesehatan bagi anak-anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) atau autisme. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah memastikan layanan terapi di fasilitas kesehatan dan Autisme Center dapat diakses melalui jaminan kesehatan BPJS.
Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni menyatakan bahwa autisme bukanlah kondisi yang disebabkan oleh satu faktor tunggal. Berbagai penelitian menunjukkan kombinasi faktor genetik dan perkembangan otak sejak masa kehamilan maupun awal kehidupan anak menjadi pemicu utama.
"Banyak faktor penyebabnya. Tapi kita tidak bisa saling menyalahkan. Kami di Pemkot Bontang akan terus berupaya memberikan pelayanan terbaik," kata Neni dalam keterangannya, Senin lalu.
Pemkot Bontang telah menyiapkan fasilitas Autisme Center yang dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai sarana pendampingan dan terapi. Neni menegaskan layanan tersebut juga bisa menggunakan BPJS sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku.
"Pemkot Bontang juga punya Autisme Center. Itu bisa dimanfaatkan masyarakat yang membutuhkan layanan pendampingan," ujarnya.
Neni mengajak para orang tua untuk rutin memantau tumbuh kembang anak melalui posyandu maupun fasilitas kesehatan terdekat. Deteksi dini menjadi langkah penting agar anak dapat segera memperoleh penanganan jika ditemukan tanda-tanda keterlambatan perkembangan.
Gejala autisme umumnya mulai terlihat sebelum anak berusia tiga tahun. Beberapa tanda yang sering muncul antara lain keterlambatan bicara, minim kontak mata, lebih senang bermain sendiri, sering mengulang gerakan atau kata tertentu, hingga memiliki sensitivitas berlebih terhadap suara, cahaya, atau sentuhan.
Terkait jumlah penyandang autisme di Kota Bontang, Neni mengaku data yang tersedia masih perlu diverifikasi kembali. Saat ini pemerintah memiliki data berbasis geospasial yang tersimpan di Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bapperida).
"Datanya ada, tetapi saya belum hafal jumlahnya. Nanti akan kami cek kembali," pungkasnya.