KALIMANTAN TIMUR — Keputusan ini merupakan pukulan telak bagi industri gim global. Sebelumnya, CEO Xbox Asha Sharma dan kepala konten Matt Booty telah memperingatkan kondisi keuangan yang memburuk dalam memo internal pada Juni 2026. Mereka menyebut margin akuntabilitas perusahaan hanya sekitar 3 persen, turun dibanding tahun lalu, dan mengonfirmasi bahwa pengeluaran untuk konten, platform, dan subsidi perangkat keras telah melampaui US$20 miliar (sekitar Rp330 triliun) dalam lima tahun terakhir, sementara pendapatan tahunan justru menyusut hampir US$500 juta.
Dampak PHK di Seluruh Lini Divisi
Gelombang PHK ini tidak hanya menyentuh tim pengembang, tetapi juga menghantam divisi platform, termasuk tim perangkat keras, Game Pass, dan pemasaran. Laporan menyebutkan id Software, studio di balik Doom, kehilangan sekitar 50 persen stafnya. Sementara itu, Double Fine harus melepas sepertiga karyawannya sebagai bagian dari proses pembelian kembali perusahaan dari Microsoft.
COO Xbox Dave McCarthy memutuskan pensiun setelah 17 tahun mengabdi, menambah daftar panjang perubahan di jajaran manajemen puncak. Beberapa proyek di Obsidian Entertainment, studio di balik Fallout: New Vegas, juga dilaporkan dibatalkan, termasuk sekuel dari Avowed.
Nasib Empat Studio yang Dilepas
Microsoft awalnya berencana menutup lima tim pengembang, namun akhirnya memilih untuk melepas empat di antaranya. Arkane Studios, Compulsion Games, Double Fine, Ninja Theory, dan Undead Labs sempat masuk daftar penutupan. Kini, hanya masa depan Arkane yang masih belum jelas, sementara empat studio lainnya berhasil dibeli kembali oleh pihak internal atau investor.
Keputusan ini memicu reaksi keras dari serikat pekerja. CWA (Communications Workers of America) di Amerika Serikat dan Kanada mengajukan gugatan terhadap Microsoft atas praktik perburuhan yang tidak adil. Para karyawan juga menggelar protes di depan kantor mereka dengan tuntutan "people over profits" atau mengutamakan manusia di atas keuntungan.
Kerugian Finansial dan Masalah Teknis Beruntun
Bulan Juli menjadi bulan yang kelam bagi Xbox. Jaringan online Xbox mengalami gangguan hampir seharian penuh, yang juga mengungkap bahwa media fisik sekalipun tidak kebal terhadap sistem DRM (manajemen hak digital) pada konsol mereka—meski kemudian diklarifikasi sebagai bug yang akan diperbaiki. Laporan keuangan kuartal keempat 2026 memperlihatkan pendapatan Xbox turun 10 persen, dan secara tahunan merosot lebih dari US$2 miliar, tertinggal jauh dari pesaing utamanya, PlayStation.
Treasurer UVW-CWA, Sherveen Uduwana, menyoroti kesenjangan besar antara kondisi perusahaan dan karyawan. "Tidak ada kekurangan kekayaan di industri gim, terutama jika kita berbicara tentang Xbox, Sony, EA," ujarnya. Sebagai perbandingan, CEO Microsoft Satya Nadella dilaporkan memperoleh kompensasi US$96 juta pada 2025.
Mengapa Ini Terjadi dan Apa Dampaknya ke Depan
Sharma dalam pengumuman PHK menulis, "Bisnis kami saat ini tidak sehat." Ia mengakui bahwa taruhan besar pada Game Pass, strategi multi-platform, dan portofolio konten yang lebih luas tidak tumbuh sesuai ekspektasi. "Kami memasuki Gen 9 dengan basis pengguna yang lebih kecil dan struktur biaya yang lebih tinggi," tulisnya.
Kombinasi akuisisi studio yang agresif selama delapan tahun terakhir—termasuk pembelian Activision Blizzard King senilai US$69 miliar—dan fokus berlebihan pada potensi pendapatan dibanding proses kreatif disebut sebagai akar masalah. Dua tahun PHK beruntun dan pola sistematis ini akhirnya memuncak pada "reset" besar-besaran yang terjadi sekarang.
Bagi para gamer, dampak terbesarnya adalah ketidakpastian kelanjutan franchise favorit mereka dan berkurangnya jumlah studio independen berkualitas yang selama ini menjadi tulang punggung inovasi industri. Seperti yang ditegaskan dalam memo internal, "Tidak mungkin dan tidak diinginkan untuk memiliki setiap studio independen yang hebat."