KALIMANTAN TIMUR — Jakarta — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan Indonesia punya kekuatan besar sebagai salah satu produsen sawit terbesar dunia. Karena itu, ia mendorong agar produksi yang meningkat dibarengi dengan hilirisasi, bukan sekadar mengirim CPO mentah ke luar negeri.
"Indonesia ini salah satu produsen sawit terbesar dunia. Ini kekuatan kita. Jangan hanya ekspor bahan mentah, tetapi kita dorong hilirisasi supaya nilai tambahnya semakin besar," ujar Amran.
Seruan itu muncul setelah kinerja ekspor sawit mencatat pertumbuhan sepanjang tujuh bulan pertama 2026. Pemerintah menempuh sejumlah langkah dari hulu ke hilir: peningkatan produktivitas kebun, peremajaan tanaman, penggunaan benih unggul, hingga pengembangan industri pengolahan.
Harga Global Ikut Dorong Ekspor
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor nonmigas Indonesia mencapai US$160,01 miliar pada Januari–Juli 2026, naik 5,21 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Total ekspor nasional menyentuh US$167,03 miliar atau tumbuh 4,43 persen.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut kenaikan harga komoditas di pasar global menjadi salah satu pendorong. Kenaikan tahunan terjadi pada kelompok pertanian, energi, logam mulia, serta logam dan mineral.
"Peningkatan harga komoditas pertanian utamanya didorong oleh peningkatan harga minyak sawit," kata Ateng dalam penyampaian Berita Resmi Statistik BPS awal September lalu.
Kelompok lemak dan minyak hewani/nabati atau HS15 masuk jajaran komoditas yang menopang ekspor nonmigas. Sektor industri pengolahan sendiri tumbuh 7,16 persen sepanjang Januari–Juli 2026.
Nilai Tambah Jadi Kunci
Amran menilai pertumbuhan ekspor sebaiknya dimanfaatkan untuk memperkuat industri pengolahan berbasis pertanian. Semakin banyak komoditas diolah di dalam negeri, semakin besar peluang menciptakan nilai tambah sebelum produk masuk pasar internasional.
Pendekatan itu sejalan dengan strategi penguatan sawit dari hulu hingga hilir yang terus dijalankan pemerintah. Tujuannya ganda: menjaga daya saing dan memperbesar nilai tambah yang tinggal di dalam negeri.
Dengan harga minyak sawit yang masih menguat dan ekspor nonmigas tumbuh, posisi sawit sebagai penyumbang utama ekspor pertanian Indonesia belum tergeser. Yang jadi pekerjaan rumah, memastikan lonjakan itu tidak sekadar soal volume bahan mentah.