SAMARINDA — Laju pertumbuhan kredit di Kalimantan Timur pada awal tahun ini menunjukkan akselerasi yang cukup tajam. Bank Indonesia mencatat, realisasi penyaluran kredit pada triwulan I 2026 mencapai 9,46 persen secara year on year, jauh di atas capaian triwulan IV 2025 yang hanya 3,39 persen.
Jajang mengungkapkan, penguatan kredit paling signifikan terjadi pada segmen modal kerja. Tumbuh 18,14 persen, angka ini melonjak drastis dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya 3,02 persen.
“Meski aktivitas produksi dan ekspor komoditas tambang mengalami penyesuaian, kebutuhan pembiayaan untuk operasional, investasi, serta pengelolaan modal kerja tetap terjaga,” kata Jajang di Samarinda, Jumat.
Dari sisi spasial, pertumbuhan kredit positif tercatat di hampir seluruh kabupaten dan kota. Namun, konsentrasi penyaluran masih terpusat di Samarinda dan Balikpapan, yang merupakan pusat kegiatan bisnis dan ekonomi di Kaltim.
Kondisi perbankan yang sehat turut mendukung intermediasi. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tetap terjaga di bawah ambang batas 5 persen.
“Rendahnya tingkat NPL ini menunjukkan kualitas kredit tetap terjaga, sejalan dengan penerapan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang baik oleh perbankan,” ujar Jajang.
Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) di Kaltim juga menunjukkan perbaikan dibanding triwulan sebelumnya. Perbaikan ini, menurut BI, memberikan dukungan likuiditas yang memadai bagi perbankan untuk menjalankan fungsi intermediasi, termasuk memenuhi pembiayaan dunia usaha dan rumah tangga.
DPK pemerintah daerah turut membaik, terutama pada komponen giro, seiring meningkatnya aktivitas keuangan pemda pada awal tahun. Sementara itu, DPK syariah juga mencatat pertumbuhan positif, mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan syariah yang semakin kuat.
“Perkembangan ini menjadi modal baik bagi penguatan intermediasi keuangan syariah, bahkan sebagai perluasan akses pembiayaan syariah di Kaltim ke depan,” kata Jajang menambahkan.