DPRD Samarinda Desak Peremajaan 73 Truk Sampah, Anggaran APBD 2027 Masih Dikaji

Penulis: Ginanjar Raharjo  •  Jumat, 31 Juli 2026 | 23:40:01 WIB
Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Andriansyah, mendesak peremajaan 73 truk sampah yang telah berusia lebih dari lima tahun.

SAMARINDA — Ratusan ton sampah warga Samarinda setiap harinya bertumpu pada kondisi belasan truk pengangkut yang sudah uzur. Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Andriansyah, mengungkapkan bahwa usulan pengadaan unit baru sebenarnya telah masuk dalam daftar prioritas, namun realisasinya masih menunggu kepastian kemampuan keuangan daerah.

“Memang keterbatasan anggaran yang kita hadapi saat ini harus menjadi pertimbangan. Itu bukan alasan klasik, melainkan fakta bahwa anggaran harus dibagi untuk berbagai kebutuhan,” kata Andriansyah di Samarinda, Jumat, 31 Juli 2026.

Risiko Truk Bocor dan Keluhan Bau di Jalan

Sebelum pengadaan truk anyar terealisasi, politisi yang akrab disapa Aan ini meminta DLH bertindak tegas soal perawatan unit yang masih beroperasi. Pemeriksaan berkala wajib dilakukan sebelum truk meninggalkan pool, terutama untuk mencegah kebocoran bak yang menyebabkan air lindi menetes di jalan raya.

“Kalau ada truk yang bocor, sopir memang kadang tidak sempat memperhatikan secara detail. Karena itu harus selalu diingatkan agar kendaraan diperiksa dulu sebelum beroperasi. Jangan sampai mengganggu masyarakat karena air lindinya,” ujarnya.

Skema Lelang untuk Pengadaan Armada 2027

Terkait rencana pengadaan kendaraan baru pada APBD 2027, pembahasannya masih berlangsung antara legislatif dan eksekutif. Aan berharap truk yang usianya sudah lebih dari lima tahun bisa diganti secara bertahap, tidak harus sekaligus.

“Usulannya sudah ada. Tinggal melihat kemampuan keuangan daerah. Sesuai mekanisme, kendaraan lama juga bisa dilelang sehingga menjadi dasar untuk pengadaan armada pengganti,” pungkasnya.

Peran Warga Kurangi Beban Angkutan

Di luar persoalan teknis kendaraan, Aan mengajak warga Samarinda mulai memilah sampah organik dari rumah. Langkah sederhana ini dinilai efektif menekan volume sampah yang harus diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sampah organik yang diolah menjadi kompos otomatis mengurangi frekuensi pengiriman truk ke TPS.

“Kalau itu dilakukan masyarakat, volume sampah yang diangkut juga akan berkurang,” tutup Aan.

Saat ini DLH Samarinda mengandalkan sekitar 89 sopir untuk menggerakkan seluruh armada yang tersebar melayani 83 titik TPS. Kondisi ini membuat satu truk kerap harus melayani lebih dari satu titik pengangkutan dalam sehari.

Reporter: Ginanjar Raharjo
Sumber: narasi.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top