KALIMANTAN TIMUR — Bogor — Pertamina Hulu Rokan (PHR) tengah berada di fase krusial pengembangan Migas Non Konvensional (MNK) di Blok Rokan, Riau. Setelah dua sumur eksplorasi menunjukkan hasil menggembirakan, perusahaan berencana menindaklanjuti dengan pengeboran tiga sumur appraisal yang dijadwalkan berlangsung pada akhir tahun 2026.
Direktur Utama PHR, Muhammad Arifin, mengungkapkan bahwa tiga sumur tersebut bukanlah titik akhir. Justru, hasil dari pengeboran ini akan menjadi dasar bagi keputusan investasi berikutnya yang jauh lebih besar.
"Tiga sumur (akhir tahun), tiga sumur, lalu nanti delapan sumur demonstratenya. Baru insya Allah nanti kalau sukses, itu hampir sekitar 400-an sumurnya," kata Arifin ditemui di Bogor, Rabu (29/7).
Fase appraisal ini menjadi penentu apakah Blok Rokan layak dikembangkan sebagai proyek MNK dalam skala komersial. SKK Migas sendiri mendorong PHR untuk merealisasikan pengeboran minimal tiga sumur appraisal tahun ini untuk memastikan keekonomian proyek.
Deputi Eksplorasi Pengembangan dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, menegaskan pentingnya tahapan ini. Menurutnya, tambahan sumur diperlukan untuk meyakinkan semua pihak bahwa potensi non-konvensional di Rokan benar-benar layak dan ekonomis.
"Minyak non-konvensional tahun ini kami harapkan Pertamina Hulu Rokan menambah 2–3 sumur appraisal untuk meyakinkan kita bahwa sumur-sumur non-konvensional ini memang layak dan ekonomis untuk dikembangkan," kata Rikky dalam acara DETalk yang digelar Dunia Energi, Februari lalu.
Optimisme ini bukan tanpa dasar. PHR sebelumnya telah menyelesaikan pengeboran dua sumur eksplorasi di struktur Kelok dan Gulamo yang berhasil menemukan kandungan hidrokarbon. Temuan ini menjadi sinyal awal bahwa potensi MNK di Cekungan Rokan cukup serius untuk dikejar.
Kendati demikian, Rikky mengingatkan bahwa pengembangan minyak non-konvensional memiliki tantangan teknologi dan operasional yang tidak sederhana. Biaya yang dibutuhkan pun jauh lebih tinggi dibanding sumur konvensional karena teknologinya yang masih mahal.
PHR hingga kini masih mengkaji apakah potensi MNK di Rokan akan dikembangkan secara mandiri. Salah satu opsi yang mengemuka adalah pembentukan entitas khusus yang fokus menggarap sektor non-konvensional — sebuah langkah yang dinilai lebih efektif mengingat karakteristik bisnis yang berbeda dari operasi migas konvensional.
Keputusan akhir akan sangat bergantung pada hasil pengeboran appraisal yang akan datang. Jika terbukti layak secara ekonomi, Blok Rokan tidak hanya akan menjadi tulang punggung produksi migas nasional, tetapi juga menandai era baru industri MNK di Indonesia.