CKG Kaltim Baru Dimanfaatkan 300 Ribu Warga, Dinkes Buka Keran Tanpa Syarat Uang dan Aplikasi

Penulis: Jauhari Lubis  •  Minggu, 16 Agustus 2026 | 21:57:31 WIB
Warga memanfaatkan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di puskesmas, Senin (17/2).

SAMARINDA — Sepanjang satu setengah tahun berjalan, realisasi Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kalimantan Timur masih jauh dari harapan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kaltim mencatat baru sekitar 300 ribu warga yang memanfaatkan layanan skrining tersebut, sementara target pemerintah daerah menyentuh angka 800 ribu sampai 900 ribu orang.

Rendahnya partisipasi ini menjadi perhatian serius lantaran penyakit tidak menular (PTM) kini mendominasi penyebab kematian di wilayah tersebut. Berdasarkan data Dinkes, PTM menyumbang 65,52 persen dari total angka kematian di Kaltim.

Penyakit Jantung dan Kanker Mendominasi Angka Kematian

Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin merinci, penyakit kardiovaskular menjadi pembunuh utama dengan kontribusi 35 persen dari total kematian. Disusul neoplasma atau kanker sebesar 10,39 persen, serta diabetes dan penyakit ginjal yang mencapai 5,18 persen.

"Angka kesakitan dan kematian yang tinggi berdampak pada tingginya beban pembiayaan penyakit katastropik," ucap Jaya di Samarinda, Minggu.

Kondisi ini yang mendorong pemerintah menempatkan deteksi dini sebagai prioritas. Optimalisasi CKG dianggap sebagai langkah strategis untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat PTM sejak dini.

Kuota 30 Orang Per Hari, Realisasi Hanya Dua Warga

Dinkes Kaltim sebenarnya telah menyiapkan fasilitas memadai dengan mengoptimalkan 188 puskesmas yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota. Setiap puskesmas bahkan telah menyediakan kuota pelayanan bagi 30 orang setiap harinya.

Namun, realisasi di lapangan jauh dari kapasitas yang tersedia. Jaya mengakui rata-rata hanya satu hingga dua warga yang datang memanfaatkan layanan skrining kesehatan gratis tersebut setiap harinya.

Bukan Hanya Saat Ulang Tahun, Warga Bisa Langsung Datang

Jaya menduga rendahnya kunjungan ini dipicu oleh kesalahpahaman masyarakat. Banyak warga yang mengira skrining gratis hanya berlaku saat hari ulang tahun atau diwajibkan mendaftar melalui aplikasi SatuSehat terlebih dahulu.

Padahal, hambatan tersebut sudah dipangkas. Dinkes Kaltim menegaskan mekanisme pelayanan kini jauh lebih sederhana.

"Kami sudah mempermudah mekanismenya. Tidak harus saat ulang tahun dan tidak perlu mendaftar melalui aplikasi SatuSehat terlebih dahulu. Datang saja ke puskesmas, masyarakat akan langsung dilayani," ucap Jaya.

Pemkab dan Pemkot Diminta Turun Tangan

Untuk mendongkrak capaian program, Dinkes Kaltim tidak bisa bergerak sendirian. Jaya meminta pemerintah kabupaten dan kota untuk lebih gencar turun ke lapangan menyosialisasikan manfaat deteksi dini kepada warganya.

"Dinas Kesehatan provinsi tidak memiliki puskesmas. Yang mengelola puskesmas adalah pemerintah kabupaten dan kota, sehingga mereka harus lebih aktif melakukan sosialisasi," ujar Jaya.

Melalui sinergi edukasi dari level desa hingga kabupaten, diharapkan faktor risiko penyakit jantung, diabetes, obesitas, dan hipertensi dapat terdeteksi sejak awal. Dengan begitu, risiko komplikasi fatal yang berujung pada kematian bisa dicegah sebelum terlambat.

Reporter: Jauhari Lubis
Sumber: kaltim.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top