Rupiah Dibuka Melemah ke Rp 17.851 per Dolar AS, Analis Beda Arah soal Proyeksi Selanjutnya

Penulis: Ginanjar Raharjo  •  Selasa, 18 Agustus 2026 | 10:18:31 WIB
Rupiah dibuka melemah ke level Rp 17.851 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

KALIMANTAN TIMUR — Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini menunjukkan volatilitas yang tinggi di tengah sentimen geopolitik yang kembali memanas. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat menyentuh level terlemah di awal sesi, namun perlahan menunjukkan tekanan beli. Posisi tersebut masih di bawah penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp 17.798 per dolar AS.

Eskalasi Timur Tengah dan Harga Minyak Jadi Beban Utama

Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah kali ini berasal dari faktor eksternal yang dominan. Berakhirnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran telah memicu kekhawatiran baru di pasar keuangan global, terutama terhadap pasokan energi.

"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah eskalasi geopolitik di Timteng dan kenaikan harga minyak mentah dunia setelah berakhirnya gencatan senjata AS-Iran," ujar Lukman.

Menurutnya, kenaikan harga minyak menjadi sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang. Hal ini meningkatkan tekanan eksternal dan memperbesar kebutuhan impor energi, yang pada akhirnya membebani neraca transaksi berjalan. Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.750 hingga Rp 17.850 per dolar AS pada hari ini.

Sentimen Domestik Beri Ruang Penguatan Tipis

Di tengah tekanan eksternal tersebut, Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas, Fikri C Permana, melihat ada faktor positif yang datang dari dalam negeri. Pemerintah baru saja memaparkan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 yang menunjukkan komitmen menjaga disiplin fiskal.

Dalam RAPBN 2027, pemerintah menargetkan defisit anggaran sebesar Rp 671,2 triliun atau setara 2,40% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini lebih rendah dibandingkan target defisit APBN 2026 yang sebesar 2,48% terhadap PDB.

"Risiko geopolitik yang masih naik-turun," kata Fikri mengenai faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah.

Fikri memperkirakan perbaikan defisit fiskal tersebut dapat menjadi katalis positif bagi rupiah. Ia melihat peluang penguatan tipis menuju level Rp 17.800 per dolar AS, meskipun dinamika konflik di Timur Tengah tetap menjadi variabel yang harus dicermati pelaku pasar karena perubahannya bisa cepat mengubah sentimen terhadap aset berisiko.

Yang Perlu Dicermati Investor Hari Ini

Pelaku pasar disarankan untuk memantau perkembangan kabar terbaru dari konflik AS-Iran sebagai penentu arah pergerakan rupiah selanjutnya. Fluktuasi harga minyak mentah dunia juga menjadi indikator penting yang perlu diawasi karena berkorelasi langsung dengan tekanan inflasi dan nilai tukar.

Selain itu, data ekonomi domestik dan pergerakan dolar AS di pasar global akan turut menentukan apakah rupiah mampu bertahan di atas level psikologis Rp 17.800 atau justru melanjutkan pelemahan menuju Rp 17.850.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Ginanjar Raharjo
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top