KALIMANTAN TIMUR — Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini menunjukkan volatilitas yang tinggi di tengah sentimen geopolitik yang kembali memanas. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat menyentuh level terlemah di awal sesi, namun perlahan menunjukkan tekanan beli. Posisi tersebut masih di bawah penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp 17.798 per dolar AS.
"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah eskalasi geopolitik di Timteng dan kenaikan harga minyak mentah dunia setelah berakhirnya gencatan senjata AS-Iran," ujar Lukman.
Menurutnya, kenaikan harga minyak menjadi sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang. Hal ini meningkatkan tekanan eksternal dan memperbesar kebutuhan impor energi, yang pada akhirnya membebani neraca transaksi berjalan. Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.750 hingga Rp 17.850 per dolar AS pada hari ini.
Dalam RAPBN 2027, pemerintah menargetkan defisit anggaran sebesar Rp 671,2 triliun atau setara 2,40% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini lebih rendah dibandingkan target defisit APBN 2026 yang sebesar 2,48% terhadap PDB.
"Risiko geopolitik yang masih naik-turun," kata Fikri mengenai faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah.
Fikri memperkirakan perbaikan defisit fiskal tersebut dapat menjadi katalis positif bagi rupiah. Ia melihat peluang penguatan tipis menuju level Rp 17.800 per dolar AS, meskipun dinamika konflik di Timur Tengah tetap menjadi variabel yang harus dicermati pelaku pasar karena perubahannya bisa cepat mengubah sentimen terhadap aset berisiko.
Selain itu, data ekonomi domestik dan pergerakan dolar AS di pasar global akan turut menentukan apakah rupiah mampu bertahan di atas level psikologis Rp 17.800 atau justru melanjutkan pelemahan menuju Rp 17.850.
Investasi mengandung risiko.