SAMARINDA — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur memastikan kesiapan pasokan pangan asal hewan untuk melayani kebutuhan sekitar 4 juta penduduk sekaligus aktivitas pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kaltim tidak hanya fokus pada produksi ternak, tetapi juga membenahi rantai pasok dari hulu ke hilir. Langkah ini ditempuh agar distribusi daging, telur, hingga produk olahan tidak terganggu di tengah meningkatnya permintaan.
SAMARINDA — Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Provinsi Kalimantan Timur menyiapkan strategi jangka panjang untuk menjamin ketersediaan pangan asal hewan bagi hampir 4 juta jiwa penduduk, plus kebutuhan tambahan dari kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Kepala DPKH Kaltim Arief Murdiyatno menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa lagi hanya mengandalkan produksi semata, melainkan harus memastikan mata rantai pasokan berjalan mulus dari peternak hingga konsumen.
"Ini sudah harus menyediakan supply kita. Jangan sampai kebutuhan akan protein hewani, khususnya ini, terganggu," kata Arief saat ditemui di Kaltim Expo, Bigmall Samarinda, Jumat (21/8/2026).
Alih-alih mempertentangkan produk segar dengan produk beku, DPKH Kaltim justru memandang keduanya sebagai satu kesatuan strategi. Produk segar tetap menguasai pasar tradisional, sementara produk beku atau frozen menjadi alternatif bagi konsumen yang membutuhkan daya simpan lebih panjang.
"Yang penting berapa kebutuhan kita untuk demand-nya, kita support dengan supply-nya, baik dari yang segar maupun dari yang beku," ujarnya.
Pendekatan ini dinilai krusial karena kebutuhan protein hewani tidak berhenti pada daging sapi atau ayam. Telur segar, produk olahan telur, hingga turunan peternakan lain ikut memperluas pilihan pangan masyarakat.
Di sisi hulu, DPKH Kaltim mengembangkan sejumlah komoditas andalan seperti kerbau, ayam Nunukan, dan rusa sambar. Namun, produksi budidaya saja tidak cukup. Pemerintah menggencarkan Program Pengembangan Desa Korporasi Ternak (PDKT) agar kegiatan peternakan berbasis kelompok dan desa bisa terhubung langsung dengan sektor pengolahan dan pemasaran.
"Ini sudah mulai dari produk hulu ke hilir," kata Arief.
Konsep hilirisasi itu mulai terlihat dari pengolahan hasil ternak menjadi produk bernilai jual lebih tinggi. Selain daging dan telur, pengembangan menyasar madu kelulut dan sarang burung walet. Produk yang tadinya dijual mentah kini diolah menjadi minuman dan komoditas turunan lain.
"Di samping yang dijual mentah, kita sudah ada nilai tambahnya. Untuk apa? Nilai jualnya lebih tinggi," jelasnya.
DPKH Kaltim juga mendorong pemanfaatan hasil samping peternakan. Kotoran ternak diolah menjadi pupuk organik cair dan padat untuk mendukung sektor pertanian. Langkah ini sekaligus membuka peluang penerapan ekonomi sirkular di mana limbah budidaya tidak terbuang percuma.
Penguatan sektor peternakan pada akhirnya bermuara pada dua hal: ketahanan pangan dan perputaran ekonomi masyarakat. Dengan populasi yang mencapai sekitar 4 juta jiwa dan perkembangan IKN yang terus berjalan, ketergantungan pada pasokan dari luar daerah dinilai berisiko tinggi jika distribusi terganggu.
"Ini untuk kebutuhan protein hewani kita di masyarakat Kaltim yang sekitar sekarang sudah kurang lebih 4 jutaan penduduk kita, plus IKN," katanya.
Pada saat bersamaan, DPKH Kaltim menyiapkan sejumlah kegiatan edukasi untuk publik. Materi yang diangkat mulai dari urban farming, jaminan produk halal, pengawasan pangan, hingga kesehatan hewan, termasuk hewan kesayangan seperti kucing dan anjing.
Dengan begitu, penguatan peternakan tidak hanya membangun kapasitas kelompok tani, tetapi juga menciptakan kesadaran masyarakat akan pentingnya konsumsi pangan asal hewan yang aman dan sehat.