KALIMANTAN TIMUR — Kabar buruk bagi yang menunda beli smartphone di 2026. Kelangkaan chip memori global yang semula hanya terdengar di berita industri, kini sudah menyentuh harga di etalase toko Indonesia. POCO X8 Pro Max dan X8 Pro adalah dua model pertama yang terkonfirmasi naik, masing-masing sekitar Rp 1,3 juta hingga Rp 1,5 juta dari harga awal.
Kenaikan ini bukan isu sementara. Di Jepang, Xiaomi sudah mengumumkan harga baru mulai 1 September 2026 untuk lini Xiaomi dan Redmi, disusul POCO tiga hari setelahnya. Kenaikannya mencapai 20.000 yen (sekitar Rp 2,2 juta) untuk model flagship, dan 2.000–10.000 yen untuk lini tablet.
Akar masalahnya ada di biaya produksi chip memori (RAM/storage) yang melonjak drastis. Xiaomi Jepang secara eksplisit menyebut kenaikan itu "sudah mencapai tingkat yang sulit ditanggung perusahaan". Selama ini Xiaomi memilih menyerap biaya tambahan demi menjaga harga jual tetap kompetitif, tapi strategi itu tidak lagi berkelanjutan.
Tekanan finansialnya nyata. Laporan Reuters mencatat pendapatan bisnis ponsel Xiaomi turun 7,5 persen secara tahunan di kuartal II-2026, dengan pengiriman anjlok 26 persen. Counterpoint Research juga mencatat pasar China lesu 13 persen selama festival belanja "618" — para vendor kompak memangkas diskon dan menaikkan harga.
Ini bukan cuma masalah Xiaomi. Apple pun diprediksi menaikkan harga model iPhone terbaru. Artinya, kenaikan harga 2026 adalah tren industri, bukan kebijakan sepihak satu merek.
Per Agustus 2026, lini Xiaomi masih menawarkan pilihan lengkap dari entry-level hingga flagship. Berikut daftar harga yang berlaku saat ini:
Xiaomi (Flagship & Mid-Range):
Redmi (Entry-Level & Mid-Range):
POCO (Performance-Focused):
Menariknya, kenaikan harga di Indonesia tidak merata. Xiaomi 17T Pro masih dibanderol sesuai harga rilis Juni 2026, yaitu Rp 11.999.000 – Rp 12.999.000. Padahal di Jepang, model yang sama naik 20.000 yen untuk varian 12GB/512GB, dari 139.800 yen menjadi 159.800 yen.
Sebaliknya, lini POCO kelas menengah yang justru kena di Indonesia. POCO X8 Pro naik dari Rp 4.999.000 ke Rp 6.299.000 (varian dasar) — selisih Rp 1,3 juta. POCO X8 Pro Max naik lebih curam, dari Rp 6.699.000 ke Rp 7.999.000 untuk varian termurah.
Perbedaan perlakuan ini memberi sinyal: harga di Indonesia belum disesuaikan penuh untuk lini flagship, tapi sudah untuk model yang volumenya besar. Kalau krisis memori berlanjut, jangan kaget kalau Xiaomi 17 series ikut naik dalam beberapa bulan ke depan.
Kenaikan harga ini terasa kurang adil karena tidak dibarengi peningkatan spesifikasi — konsumen membayar lebih untuk produk yang sama. POCO X8 Pro Max yang dulu masuk kategori "value flagship" sekarang bersaing di kelas yang lebih mahal, di mana kompetisinya jauh lebih ketat.
Di segmen Rp 8 jutaan, POCO X8 Pro Max sekarang harus berhadapan dengan Xiaomi 15T (Rp 7.999.000) dan Redmi Note 15 Pro+ 5G di kelas bawahnya. Sementara POCO X8 Pro di harga Rp 6,3 jutaan kini menempel ketat dengan POCO F7 Ultra yang cuma beda Rp 700 ribuan — dan F7 Ultra jelas lebih unggul di chipset.
Untuk Redmi dan POCO entry-level (C-series, A7 Pro, M7), kenaikan belum terasa. Tapi kalau pola di Jepang berlaku di sini — tablet dan model entry kena 2.000–10.000 yen — segmen bawah bisa menyusul.
Kalau kamu incar POCO X8 Pro atau X8 Pro Max, saran kami: tunda dulu. Kenaikan Rp 1,3–1,5 juta membuat nilai kompetitifnya tergerus. Lihat opsi lain di kelas harga yang sama, atau tunggu sampai harga stabil.
Untuk Xiaomi 17T Pro di Rp 11,9 juta, harga masih sama dengan saat rilis — ini justru momen terbaik membeli sebelum kenaikan menyusul. Flagship seperti Xiaomi 17 Ultra dan Xiaomi 17 belum terdampak di Indonesia, tapi tekanan biaya produksi yang sama cepat atau lambat akan sampai ke sini.
Yang jelas, era smartphone murah dari Xiaomi sedang teruji. Keputusan Xiaomi menaikkan harga adalah konsekuensi logis dari bisnis yang marginnya tipis — dan konsumen Indonesia harus lebih jeli memilih momen membeli di sisa tahun 2026.