Kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan konservasi Tahura Bukit Soeharto di Kalimantan Timur hingga akhir Agustus 2026 telah menghanguskan lebih dari 200 hektare lahan. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur Rusmadi turun langsung ke lapangan pada malam hari untuk memastikan proses pemadaman berjalan efektif.
KUTAI KARTANEGARA – Api yang melalap kawasan Tahura Bukit Soeharto utamanya menyala di area Kilometer 50, dengan sumber api utama berasal dari Bukit Tengkorak yang membentang hingga masuk ke area konservasi. Lahan yang terbakar berupa hutan kosong dan kebun warga yang tersebar di wilayah itu.
Upaya penanganan dilakukan secara gabungan antara Tim Dinas Kehutanan Kaltim, Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Tahura, serta tim dari Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN). Meski kewenangan pengelolaan Tahura kini telah beralih sepenuhnya ke Otorita IKN, jajaran Dinas Kehutanan Kaltim tetap berkomitmen hadir membantu penanggulangan bencana di kawasan tersebut.
Operasi pemadaman di lapangan kerap berlangsung berat. Rusmadi menyebutkan petugas sering kali berjibaku melawan api hingga tengah malam bahkan sampai waktu subuh untuk memastikan titik api tidak kembali menyala.
Ia menegaskan bahwa kehadiran pimpinan tertinggi dinas kehutanan secara langsung di lokasi menjadi pemantik semangat moral bagi tim gabungan yang tengah berupaya mengendalikan api di kawasan konservasi tersebut.
Krisis kebakaran ini sekaligus menyoroti minimnya jumlah personel Polisi Kehutanan (Polhut) di Kaltim. Saat ini, hanya ada sekitar 55 hingga 65 orang Polhut yang bertugas menjaga luasan hutan lebih dari 8 juta hektare di provinsi tersebut.
Untuk menutup keterbatasan itu, strategi utama pemerintah mengandalkan sinergi lintas sektor bersama TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta dukungan masif dari lebih dari 5.000 anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) yang tersebar di 10 kabupaten dan kota di Kalimantan Timur.
Mengantisipasi meluasnya api, Dinas Kehutanan Kaltim telah menyiagakan staf, armada, dan sarana prasarana di pos-pos strategis. Salah satunya di Pos Kilometer 45 Tahura Bukit Soeharto, sehingga tim dapat segera bergerak mengepung titik api saat terdeteksi. Kecepatan respons menjadi kunci utama untuk mencegah kebakaran meluas ke area lain yang lebih luas.