SAMARINDA — Skema Buy the Service (BTS) yang dijalankan Kementerian Perhubungan sejak 2020 pada sejumlah kota dirancang agar negara membeli layanan operator berdasarkan kilometer. Tujuannya menyediakan angkutan umum yang terjangkau dan andal, sekaligus mendorong masyarakat, terutama pengguna kendaraan pribadi, beralih ke transportasi umum.
Namun Sara menilai ukuran keberhasilan itu terlalu sempit. Menurut dia, satu program bisa memberi manfaat mobilitas nyata meski tidak seluruhnya tercermin dalam angka perpindahan moda.
"Apabila keberhasilan bus kota hanya diukur dari berapa banyak pengguna kendaraan pribadi yang beralih, maka manfaat nyata bagi kelompok yang memang bergantung pada angkutan umum berisiko tidak terlihat sepenuhnya," kata Sara pada Jumat 18 September 2026.
Dasar penilaian itu datang dari survei terhadap 205 penumpang Bacitra di tiga koridor pada Juni 2026. Sekitar seperlima responden tercatat tidak memiliki kendaraan pribadi, sementara sekitar separuh lainnya hanya memiliki sepeda motor.
Mayoritas perjalanan yang mereka lakukan bukan untuk bekerja, melainkan untuk kebutuhan non-kerja seperti belanja dan rekreasi. Komposisi itu, kata Sara, perlu dicatat dan dilaporkan secara berkala bersamaan dengan indikator jumlah penumpang dan ketepatan waktu.
"Komposisi bukan detail administratif, ia membantu menunjukkan siapa yang menerima manfaat dari layanan," ujarnya.
Evaluasi juga dapat diperluas ke spesifikasi armada dan halte berdasarkan karakteristik pengguna pada masing-masing koridor. Pada koridor yang didominasi penumpang berusia lanjut dan perjalanan siang hari, aspek yang relevan dinilai berbeda.
Kemudahan naik-turun, tempat duduk prioritas, waktu berhenti yang memadai, dan kenyamanan halte masuk dalam daftar aspek yang perlu dinilai. Sara menambahkan, ukuran keberhasilan layanan dapat diperluas dengan memasukkan aspek aksesibilitas dan mobilitas bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan pilihan perjalanan.
Menurut Sara, pembenahan ukuran evaluasi tidak serta-merta berarti penambahan biaya besar. Data mengenai siapa pengguna layanan, tingkat kepuasannya, serta manfaat mobilitas yang diterima bisa menjadi dasar penilaian.
Data itu dinilai penting untuk menentukan aspek pelayanan yang perlu diperbaiki seiring bertambah matangnya sistem transportasi umum di Balikpapan. Sara menyebut komposisi penumpang perlu menjadi bagian tetap dari laporan berkala, bukan sekadar pelengkap indikator perpindahan moda.