KALIMANTAN TIMUR — Setelah beberapa waktu menguji iPhone 18 Pro Max, saya menyadari fitur yang paling mengubah cara memotret bukanlah variable aperture yang ramai dibahas, melainkan Pro Controls. Kontrol manual penuh kini tersedia langsung di aplikasi Camera bawaan, meski eksklusif hanya untuk lini Pro dan absen di iPhone Duo.
Apple akhirnya memberikan yang selama bertahun-tahun diminta para fotografer serius: kontrol manual lengkap di aplikasi kamera bawaan. Selama menguji iPhone 18 Pro Max, perhatian saya awalnya tersedot ke variable aperture yang jadi headline. Fitur itu memang mengubah mekanika memotret lewat ponsel, bukan sekadar iPhone.
Alih-alih mengandalkan simulasi blur portrait, pengguna mendapat depth of field optik asli dan kontrol cahaya sungguhan. Tapi semakin lama bekerja di aplikasi Camera yang dirombak, semakin jelas bahwa bintang sesungguhnya bukanlah bilah fisik yang bergerak itu.
Pro Controls membuat aplikasi Camera iOS terasa jauh dari kesan point-and-shoot biasa. Ini adalah suite pemotretan manual khusus dengan kontrol granular untuk exposure, shutter speed, white balance, fokus, aperture, resolusi, dan lainnya.
Yang paling membantu, semua alat ini bisa diakses langsung dari viewfinder. Tidak perlu lagi masuk ke Settings sistem hanya untuk mengubah satu parameter pemotretan.
Ada catatan penting. Apple membatasi fitur ini hanya untuk iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max. Harapan agar fitur ini turun ke iPhone 17 Pro lewat update iOS 27 resmi pupus.
Yang juga mengejutkan, iPhone Duo yang akan datang pun tidak mendapat Pro Controls. Kebijakan ini mempertegas sekat antara pengguna Pro dan non-Pro, sesuatu yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan upgrade.
Di tepi viewfinder tersedia toggle penting untuk white balance, aperture, exposure compensation, flash, dan Live Photos. Semua tetap ada untuk akses cepat sekali sentuh.
Untuk menjangkau Pro Controls lainnya, pengguna perlu mengetuk ikon pengaturan kamera. Ini membuka overlay mengambang untuk mengatur shutter speed, fokus manual, opsi format, dan lainnya. Di sini juga bisa mengaktifkan histogram langsung, memilih Photographic Style, atau mengatur Night mode.
Menariknya, Apple menyediakan kontrol terpisah untuk aperture dan depth. Aperture menggerakkan bilah fisik di sensor utama melalui empat stop hardware, sementara depth mengatur bokeh simulasi. Keduanya punya kegunaan, tapi saya jauh lebih memilih falloff asli dari aperture fisik.
Satu keluhan soal pengaturan ini: tidak ada cara mengustomisasi parameter mana yang tetap menempel di layar utama. Bagi saya, Live Photos atau flash nyaris tak pernah dipakai.
Saya berharap Apple menyadari ini dan memberi kebebasan bagi fotografer menata tata letak sesuai kebutuhan lewat update software berikutnya.
Bukan hanya foto, Pro Controls juga hadir untuk perekaman video. Suite-nya tidak selengkap sisi foto, tapi Apple menyertakan dua parameter paling penting untuk kerja video serius: aperture fisik dan shutter speed manual.
Membuka kunci shutter speed jadi kemenangan besar bagi videografer yang menangani alur kerja multi-kamera. iPhone sebelumnya mengunci shutter speed di balik exposure komputasional otomatis, sering menghasilkan motion blur yang tidak natural atau bergetar.
Dengan mengatur shutter speed manual, memotong footage dari iPhone 18 Pro bersama kamera dedicated jadi jauh lebih mudah. Misalnya, mengunci di 1/50 atau 1/60 untuk mempertahankan motion blur natural, atau menaikkan ke 1/240 untuk memberi kesan dramatis pada adegan aksi cepat.
Pro Controls adalah upgrade kamera yang benar-benar saya tunggu. Tidak perlu lagi bergantung pada aplikasi pihak ketiga untuk mengambil kendali kreatif penuh atas sebuah bidikan. Semua yang dibutuhkan sudah tertanam di aplikasi Camera bawaan.
Satu kekurangan mencolok yang tersisa adalah kontrol ISO manual yang masih dikunci Apple. Meski dengan batasan itu, Pro Controls adalah fitur yang mengubah iPhone 18 Pro series dari sekadar ponsel point-and-shoot menjadi perangkat kreatif yang serius.
Fitur ini cocok untuk fotografer dan videografer yang butuh kontrol presisi tinggi dan sering bekerja dengan alur multi-kamera. Kurang cocok bagi pengguna yang menginginkan pengalaman jepret instan tanpa mengutak-atik parameter, apalagi dengan harga premium yang melekat pada lini Pro Max.