Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Timur mencatat pengguna QRIS di wilayah Kaltim menembus 948,3 ribu pada triwulan II-2026, naik dari 906,6 ribu pada triwulan sebelumnya. Seiring pertumbuhan itu, jumlah merchant QRIS juga bertambah dari 835 ribu menjadi 910 ribu. Perluasan akseptasi pembayaran digital ini disebut sebagai alternatif transaksi, bukan untuk menghilangkan penggunaan uang tunai.
SAMARINDA — Deputi Kepala Perwakilan BI Kaltim Bayu Adi Hardiyanto memaparkan capaian tersebut saat menyampaikan perkembangan sistem pembayaran daerah di Samarinda. Ia menyebut pertumbuhan pengguna dan merchant QRIS berjalan seiring semakin meluasnya akseptasi pembayaran digital di kalangan masyarakat.
Peningkatan jumlah pengguna QRIS di Kaltim tercatat sebesar 41,7 ribu dibandingkan triwulan I-2026. Adapun penambahan merchant mencapai 75 ribu dalam periode yang sama.
Bayu menegaskan perluasan QRIS tidak ditujukan untuk menghilangkan transaksi tunai. Menurutnya, kebijakan itu bagian dari upaya Bank Indonesia menyediakan pilihan pembayaran yang lebih praktis.
"Sejalan dengan peningkatan pengguna, jumlah merchant (mercantil) QRIS juga bertumbuh dari 835 ribu menjadi 910 ribu merchant," kata Bayu.
Kemudahan bertransaksi lewat ponsel menjadi salah satu alasan makin banyak warga Kaltim beralih ke QRIS. Pembayaran cukup dilakukan melalui telepon seluler tanpa perlu menyiapkan uang tunai.
Di sisi lain, nominal transaksi melalui Real Time Gross Settlement (RTGS) pada Juli 2026 tercatat Rp15,26 triliun. Sementara transaksi lewat Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) mencapai Rp2,34 triliun.
Secara agregat, nominal dan volume transaksi kedua layanan tersebut mengalami kontraksi. Transaksi RTGS menurun 18,19 persen, sedangkan SKNBI terkontraksi 22,81 persen.
Peredaran uang kartal di Kaltim pada Juli 2026 menunjukkan posisi aliran keluar bersih (net outflow) sebesar Rp423,3 miliar. Kondisi itu terjadi karena jumlah uang kartal yang keluar dari Kaltim lebih besar daripada yang masuk.
Bayu menjelaskan salah satu faktor pemicunya adalah tingginya aktivitas masyarakat Kaltim yang melakukan kegiatan ekonomi maupun bekerja di luar daerah. Aliran uang keluar itu mencerminkan mobilitas ekonomi warga lintas provinsi.
BI Kaltim terus mendorong perluasan akseptasi pembayaran digital di berbagai sektor usaha, termasuk pedagang kecil dan UMKM. Perluasan merchant QRIS di daerah menjadi bagian dari upaya menjaga efisiensi transaksi sekaligus memperkuat ekosistem pembayaran lokal.