KALIMANTAN TIMUR — Kliff Studios resmi membiayai drama sci-fi Algo In The Sky sebagai bagian dari dorongan mengembangkan generasi baru sineas Thailand. Rumah produksi asal Bangkok itu menggarap film ini bersama Matlock Stone, Gecco Productions, dan TSixtySix, dengan jadwal syuting mulai akhir Maret 2027. Proyek ini menandai debut penyutradaraan feature T-Thawat "Pete" Taifayongvichit.
Kliff Studios bukan nama baru di jajaran investor film internasional. Perusahaan yang berbasis di Bangkok itu sebelumnya menopang H Is For Hawk garapan Philippa Lowthorpe, A Useful Ghost arahan Ratchapoom Boonbunchachoke, dan Esarn Seven milik Chantana Tiprachart.
Kali ini Kliff mengambil peran berbeda. Algo In The Sky menjadi proyek pertama yang mereka ikuti sejak tahap pengembangan, bukan setelah film selesai dikemas atau masuk produksi.
Berlatar Bangkok di masa mendatang, Algo In The Sky mengikuti seorang perempuan bercerai yang diminta membantu membuat avatar AI dari mantan ibu mertuanya yang menua. Permintaan itu datang bersamaan dengan persiapan putrinya yang hendak meninggalkan rumah.
Film ini memakai kemunculan avatar digital yang makin mirip manusia untuk menelusuri ingatan, duka, dan cara keluarga membentuk ulang kenangan tentang orang yang telah pergi. Naskahnya ditulis T-Thawat bersama Bryan Ott.
T-Thawat selama ini lebih dikenal sebagai sinematografer. Namanya tercatat dalam sejumlah produksi Netflix seperti Hunger, Doctor Climax, dan Terror Tuesday: Extreme.
Di jalur penyutradaraan, ia menggarap film pendek 83 Soi Soonvijai 14 yang meraih penghargaan, plus satu episode serial populer Girl From Nowhere. Algo In The Sky menjadi feature pertamanya sebagai sutradara.
Pendiri Kliff, Annie Yang, Chotiphun Tiaviwat, dan Tanat Tananivit, menyebut proyek ini berjalan seiring strategi menempatkan modal Thailand ke produksi internasional mapan. Tujuannya membangun relasi dengan produser, pemodal, distributor, dan talenta luar negeri yang nantinya bisa kembali mengisi slate domestik mereka.
"Ada talenta luar biasa banyak di Thailand, tetapi talenta butuh kesempatan," kata Yang. "Sutradara yang akan menentukan sinema Thailand sepuluh atau dua puluh tahun ke depan mungkin belum membuat feature pertama mereka. Harus ada yang siap mengambil risiko pertama bersama mereka."
Tiaviwat menambahkan bahwa Thailand sudah lama dikenal sebagai lokasi produksi film internasional. Menurutnya, tahap berikutnya adalah membuat Thailand ikut serta secara berarti dalam pembiayaan, pengembangan, dan kepemilikan film-film tersebut.
"Modal Thailand harus duduk di meja yang sama dengan modal internasional," ujarnya.
Bagi Tananivit, investasi internasional dan pengembangan talenta lokal bukan dua bisnis terpisah. Ia menyebut pengalaman dan relasi dari proyek luar negeri perlu dibawa pulang untuk menciptakan peluang di dalam negeri.
Algo In The Sky disusun sebagai kolaborasi regional. Materi pengembangannya menggambarkan proyek ini berpotensi menjadi co-production Thailand-Singapura, berakar lokal tapi mampu menembus pasar internasional lewat peluncuran di festival besar.
Kliff juga tercatat sebagai produser Esarn Seven yang kini masuk tahap pasca-produksi, serta mendukung Songkram Songkran, debut feature Pisinee Khaosamai.
Langkah Kliff menambah deretan rumah produksi Asia Tenggara yang mulai menaruh taruhan pada sutradara muda. Bagi industri film Thailand, taruhannya jelas: apakah investasi jangka panjang ke talenta baru bisa menghasilkan nama yang bersaing di panggung internasional.