PENAJAM — Pelaksana tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Penajam Paser Utara, Lukasiwan Eddy Saputro, menyatakan musim kemarau berdampak langsung pada kesehatan masyarakat. Debu dan asap karhutla yang mengandung partikel halus serta gas beracun menjadi pemicu utama penyakit ISPA di wilayah itu.
Laporan dari setiap puskesmas di empat kecamatan dan rumah sakit umum daerah menunjukkan kenaikan kasus yang signifikan. Angka ISPA melonjak dari 1.771 menjadi 3.222 kasus, sementara diare tercatat 1.032 kasus dengan 109 di antaranya menimpa balita.
Polusi Debu dan Asap Karhutla Jadi Pemicu Utama ISPA
Menurut Lukasiwan, partikel halus dan gas beracun dari asap kebakaran hutan dan lahan masuk ke saluran pernapasan warga. Kondisi ini diperparah aktivitas luar ruangan pada siang hari saat kualitas udara memburuk.
"Musim kemarau berdampak pada kesehatan masyarakat dan harus diwaspadai," ujar Lukasiwan Eddy Saputro ketika ditanya mengenai antisipasi kesehatan masyarakat di musim kemarau di Penajam.
Pemerintah kabupaten mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama siang hari. Warga diwajibkan memakai masker yang menutup hidung dan mulut jika harus beraktivitas di luar rumah.
Langkah lain yang disarankan adalah menutup pintu dan jendela saat kualitas udara memburuk. Warga juga diminta menghindari pembakaran sampah dan rutin menjaga kebersihan rumah dengan metode yang meminimalkan debu.
Keterbatasan Air Bersih Tingkatkan Risiko Diare
Kondisi kemarau dan keterbatasan air bersih berpotensi menurunkan kualitas sanitasi. Hal ini meningkatkan risiko penularan diare di tengah masyarakat.
Diare tanpa penanganan tepat dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan secara drastis. Kondisi terburuknya berujung dehidrasi berat, terutama pada balita yang daya tahan tubuhnya lebih rentan.
Dari 1.032 kasus diare yang terdata, 109 kasus terjadi pada balita. Tidak ada laporan kematian akibat diare sampai saat ini.
Masyarakat diminta memperketat Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Warga wajib memastikan air minum direbus hingga mendidih sempurna serta selalu mencuci tangan memakai sabun di bawah air mengalir.
11 Puskesmas dan RSUD Disiagakan Pantau Kasus
Sebanyak 11 puskesmas dan RSUD Ratu Aji Putri Botung disiagakan untuk memantau perkembangan kasus penyakit sensitif iklim. Fasilitas kesehatan itu juga bersiap menangani warga yang datang dengan gejala terkait.
"Perbanyak konsumsi air putih, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala batuk, sesak napas, atau demam," tambah Lukasiwan.
Dinas Kesehatan mengingatkan warga tidak menunda pemeriksaan jika gejala memburuk. Penanganan dini di puskesmas terdekat menjadi kunci mencegah komplikasi saat musim kemarau masih berlangsung.