Sebanyak 66 pejabat dari berbagai instansi memulai Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II Angkatan X di Samarinda guna menghadapi dinamika Ibu Kota Nusantara. Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji menekankan birokrasi masa depan harus responsif dan solutif, bukan sekadar terjebak rutinitas administratif.
SAMARINDA — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mulai menyiapkan kader birokrasi yang mampu beradaptasi dengan perpindahan pusat pemerintahan ke wilayah ini. Fokus utama diarahkan pada penguatan kolaborasi antar-pemangku kepentingan untuk melahirkan kepemimpinan strategis.
Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, menyatakan kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) menuntut perubahan pola kerja aparatur sipil negara. Menurutnya, tantangan di masa depan akan jauh lebih dinamis sehingga membutuhkan pemimpin yang memiliki visi kuat sekaligus keberanian melakukan terobosan.
Dalam arahannya saat membuka Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II di Pusat Pembelajaran Strategi Kebijakan Pelayanan Publik (Pusjar SKPP) LAN-RI, Seno menegaskan bahwa fungsi birokrasi kini tidak lagi terbatas pada urusan administratif semata.
“Kepemimpinan birokrasi itu tidak cukup hanya pada urusan administratif. Harus ada visi dan keberanian untuk melakukan perubahan. Pemimpin di birokrasi harus bisa menggerakkan organisasi, bukan sekadar mengerjakan tugas rutin belaka,” tegas Seno Aji di Samarinda, Selasa (5/5/2026).
Ia menambahkan, kriteria pemimpin yang dibutuhkan saat ini adalah mereka yang mampu mendengarkan keluhan masyarakat secara langsung. Kemampuan memunculkan solusi yang konkret menjadi harga mati agar organisasi pemerintahan tetap relevan di tengah perubahan status wilayah Kaltim sebagai penyangga IKN.
Kepala Pusjar SKPP LAN-RI, Rahmat, melaporkan bahwa jumlah peserta pada angkatan ini melampaui kuota biasanya. Jika lazimnya maksimal 60 orang, kali ini tercatat 66 peserta yang mengikuti pelatihan intensif tersebut.
Komposisi peserta menunjukkan tren menarik dengan dominasi dari instansi vertikal pusat. Berikut rincian asal instansi para peserta:
Pelatihan ini dirancang dengan durasi yang cukup panjang, dimulai sejak 5 Mei hingga 24 September 2026. Seluruh peserta diwajibkan menyelesaikan total 923 jam pelajaran yang mengombinasikan berbagai metode pembelajaran.
Rahmat menjelaskan pihaknya menerapkan pendekatan blended learning, yakni perpaduan antara jalur pelatihan klasikal dan non-klasikal. Peserta akan menjalani experiential learning yang mencakup pembelajaran mandiri, di dalam kelas, hingga praktik langsung di tempat kerja masing-masing.
Sekretaris Utama LAN-RI, Andi Taufik, mengingatkan para peserta untuk menjaga ketahanan mental selama proses belajar yang melelahkan ini. Ia menekankan pentingnya aspek psikologis dalam menyerap materi kepemimpinan yang kompleks.
“Kunci sukses mengikuti pelatihan kepemimpinan ini adalah menghadirkan perasaan bahagia. Learning is most effective when it is fun. Pembelajaran akan mendapatkan hasil yang sangat baik jika peserta mengikuti pelatihan dengan perasaan senang,” ujar Andi Taufik.