KALIMANTAN TIMUR — Lantai bursa otomotif global kembali bergejolak setelah Stellantis dan Dongfeng mengonfirmasi kesepakatan strategis untuk memperluas basis produksi mereka di China. Bukan sekadar memenuhi permintaan domestik Tiongkok yang masif, kolaborasi ini dirancang untuk menjadikan fasilitas manufaktur di Wuhan sebagai hub ekspor kendaraan ke berbagai belahan dunia.
Langkah besar ini menandai babak baru bagi kemitraan Dongfeng Peugeot Citroen Automobile yang telah terjalin selama tiga dekade. Dengan suntikan dana segar, pabrik di Hubei tersebut akan segera melakukan perkakas ulang (retooling) guna menyambut lini produk yang jauh lebih modern dan canggih secara teknologi.
Pecinta otomotif yang sempat terpukau dengan kehadiran Concept 6 dan Concept 8 di Beijing Motor Show baru-baru ini boleh bernapas lega. Stellantis memastikan bahwa dua model Peugeot terbaru yang diproduksi di Wuhan akan mengambil basis langsung dari mobil konsep tersebut.
Model pertama diprediksi akan mengisi segmen rakish estate atau station wagon sporti, mengikuti jejak estetika Peugeot 508 namun dengan pendekatan yang lebih futuristik. Sementara itu, model kedua adalah sebuah SUV flagship yang diposisikan sebagai kasta tertinggi dalam jajaran produk Peugeot, dengan dimensi yang lebih bongsor dibandingkan model manapun yang pernah mereka rilis sebelumnya.
Kedua mobil ini tidak hanya mengedankan aspek visual yang dramatis, tetapi juga menjadi etalase teknologi elektrifikasi terbaru dari grup Stellantis. Penggunaan platform global memungkinkan Peugeot untuk tetap mempertahankan karakter berkendara khas Eropa meski dirakit di daratan China.
Di sisi lain, Jeep yang dikenal dengan ketangguhan di medan berat juga tidak mau ketinggalan dalam transisi energi ini. Meski Stellantis belum merinci nama modelnya secara spesifik, mereka memberikan bocoran bahwa kedua unit Jeep tersebut adalah off-road new energy vehicles.
Istilah "new energy" di pasar China biasanya merujuk pada kendaraan listrik murni (BEV) atau Plug-in Hybrid (PHEV). Kehadiran Jeep listrik dari Wuhan ini menjadi sinyal kuat bahwa merek ikonik Amerika tersebut serius menggarap pasar SUV petualang yang ramah lingkungan namun tetap memiliki kemampuan 4x4 yang mumpuni.
Produksi Jeep di Wuhan ini juga diharapkan mampu menekan biaya operasional secara signifikan. Dengan dukungan rantai pasok baterai dan komponen EV yang sudah matang di China, Jeep bisa menawarkan harga yang lebih kompetitif saat diekspor ke pasar internasional nantinya.
Skala proyek ini tergolong masif dengan total investasi mencapai 1 miliar Euro (sekitar Rp 17,3 triliun). Dari total angka tersebut, Stellantis berkontribusi sebesar 130 juta Euro atau setara Rp 2,2 triliun, sementara sisanya didukung oleh kebijakan industri otomotif dari Pemerintah Provinsi Hubei dan Kota Wuhan.
CEO Stellantis, Antonio Filosa, menegaskan bahwa kemitraan ini merupakan pemanfaatan kekuatan dari dua raksasa otomotif yang sudah saling mengenal karakter masing-masing. "Dengan rekam jejak kolaborasi selama lebih dari 30 tahun, Stellantis dan Dongfeng siap memperkenalkan kendaraan baru dengan teknologi EV mutakhir dari merek yang dipercaya pelanggan di seluruh dunia," ungkap Filosa dalam keterangan resminya.
Hingga saat ini, Stellantis memang belum merinci negara mana saja yang akan menjadi tujuan ekspor utama dari empat model baru ini. Namun, melihat standar kualitas dan teknologi yang diusung, besar kemungkinan pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, serta sebagian wilayah Eropa akan menjadi target potensial bagi Peugeot dan Jeep buatan Wuhan ini.