BALIKPAPAN — Puluhan tokoh adat, perwakilan sanggar seni, dan sesepuh Dayak dari berbagai daerah di Kalimantan Timur hadir dalam forum yang digagas Lembaga Adat Dayak Kenyah Kota Balikpapan. Mereka membahas filosofi di balik setiap aksesoris dan pakaian adat yang kerap disalahartikan masyarakat luas.
Ketua Adat Dayak Kenyah Kota Balikpapan, Lampang Bilung, menjelaskan bahwa forum ini menjadi ruang edukasi penting. “Tadi kami memberikan pengetahuan mengenai makna beberapa bentuk topi adat Dayak Kenyah supaya tidak ada lagi informasi simpang siur. Semua harus dipahami dengan komunikasi yang baik,” ujarnya.
Menurut Lampang, setiap bentuk dan ornamen pada topi adat memiliki pesan spiritual dan status sosial yang melekat. Kesalahan penggunaan bisa menimbulkan misinterpretasi di tengah masyarakat.
Dalam prosesi acara, dua bilah mandau diserahkan dari pihak sanggar seni kepada tokoh adat sebagai simbol hubungan baik. Lampang menegaskan bahwa mandau bukanlah senjata semata. “Mandau bukan sekadar senjata tradisional, tetapi simbol perekat hubungan persaudaraan dan jembatan hubungan baik,” katanya.
Penyerahan mandau ini menjadi penanda bahwa setiap barang adat memiliki fungsi sosial yang lebih dalam, terutama dalam memperkuat tali persaudaraan antarsesama masyarakat adat.
Lampang Bilung menjelaskan makna di balik nama kegiatan tersebut. “‘Katuk’ artinya nasihat adat, ‘Ngan’ berarti dan, sedangkan ‘Alaq Tawai’ adalah orang yang pernah dinasihati atau dipulihkan kembali semangatnya. Ini tradisi adat Dayak Kenyah dalam memberikan nasihat serta penyelesaian persoalan secara arif dan bermartabat,” ucapnya.
Forum ini menekankan keseimbangan hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta sebagai inti dari budaya Dayak Kenyah. Para tokoh adat seperti Firminus Kunum, Viktor Juan, Gun Ingan, dan Abriantinus turut memberikan wejangan dalam sesi diskusi.
Lampang menambahkan bahwa setiap prosesi penyambutan tamu yang menggunakan simbol adat seharusnya dikomunikasikan terlebih dahulu dengan pihak yang memahami adat istiadat Dayak Kenyah. “Kami selalu membuka ruang diskusi supaya tidak terjadi kesalahan dalam penggunaan simbol adat, karena setiap atribut memiliki makna tersendiri,” ujarnya.
Forum ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat pemahaman publik, khususnya generasi muda, agar tidak keliru dalam menggunakan atribut adat di acara-acara seremonial maupun kehidupan sehari-hari.