TENGGARONG — Sekretaris Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara, Sunggono, menyebut Pancasila bukan sekadar dasar negara, melainkan bintang penuntun yang telah terbukti ketangguhannya. Di tengah ancaman fragmentasi yang menggerus banyak negara multikultural, Indonesia tetap berdiri kokoh dengan keberagaman lebih dari 17.000 pulau dan 633 etnis yang disatukan dalam ikatan kebangsaan.
Saat membacakan sambutan tertulis Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi, Sunggono menekankan bahwa Pancasila berfungsi sebagai jangkar moral. Nilai-nilai luhur ini menjadi pegangan untuk menghadapi dinamika zaman, mulai dari disrupsi teknologi hingga tantangan geopolitik global.
"Pancasila merupakan bintang penuntun bagi kehidupan berbangsa. Hingga kini Pancasila telah membuktikan ketangguhan dalam mempersatukan beragam warna kehidupan," ujar Sekda Sunggono di hadapan peserta upacara.
Mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, peringatan tahun ini tidak hanya dimaknai sebagai seremoni. Yudian Wahyudi dalam sambutannya menegaskan bahwa Pancasila menjadi dasar bagi kebijakan luar negeri Indonesia yang bebas aktif. Nilai musyawarah dan mufakat dinilai menjadi instrumen diplomasi penting untuk menjembatani perbedaan dan meredam konflik di kancah internasional.
"Peran Indonesia di kancah internasional sesuai amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yakni ikut mewujudkan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial," katanya.
Peringatan Hari Lahir Pancasila juga menjadi momentum refleksi agar api Pancasila tetap menyala dalam jiwa setiap warga negara. Sunggono mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya generasi muda, untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang hidup.
Ia menekankan bahwa setiap nilai yang terkandung dalam Pancasila tidak boleh sekadar menjadi hiasan dinding kantor atau teks sejarah. Sebaliknya, nilai-nilai itu harus diwujudkan dalam sikap dan tindakan sehari-hari.
"Untuk itu, kita semua, terutama generasi muda, harus menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang hidup," pungkasnya.
Peringatan ini menjadi relevan di tengah derasnya arus informasi dan polarisasi yang kerap dipicu oleh media sosial. BPIP menyebut bahwa disrupsi teknologi dan perubahan sosial yang cepat dapat mengikis rasa kebangsaan jika tidak dibentengi dengan pemahaman ideologi yang kuat. Pancasila, dalam konteks ini, berfungsi sebagai filter moral dan perekat sosial.
Pertanyaan: Apa langkah konkret yang dilakukan Pemkab Kukar setelah peringatan ini?
Jawaban: Hingga berita ini diturunkan, Sekda Sunggono belum merinci program tindak lanjut. Namun, peringatan ini diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh aparatur sipil negara dan masyarakat untuk mengimplementasikan nilai Pancasila dalam pelayanan publik dan kehidupan bermasyarakat.
Pertanyaan: Mengapa angka 633 etnis dan 17.000 pulau disebut dalam pidato tersebut?
Jawaban: Angka tersebut menegaskan skala keberagaman Indonesia yang luar biasa. Menyebutnya dalam konteks Hari Lahir Pancasila adalah pengingat bahwa tanpa ideologi pemersatu, keberagaman sebesar itu berpotensi menjadi sumber konflik, bukan kekuatan.