Program GATI digencarkan untuk menekan fenomena fatherless, yaitu kondisi anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah secara emosional dan psikologis. Kepala Perwakilan BKKBN Kaltim Sunarto menyebut penyebab utamanya adalah kesibukan kerja orang tua dan faktor sosial lainnya.
"Program GATI terus digencarkan untuk menekan fenomena fatherless atau anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah akibat sibuk kerja maupun sebab lain," kata Sunarto di Samarinda, Jumat.
Dampak dari ketidakhadiran ayah dinilai bisa menghambat tumbuhnya kepercayaan diri anak. Melalui GATI, BKKBN ingin memupuk kembali peran ayah dalam pengasuhan agar anak-anak bisa tumbuh menjadi generasi yang berkualitas.
BKKBN Kaltim tidak bekerja sendiri. Berbagai aksi diperkuat dengan menggandeng instansi terkait di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota. Pendampingan dan penguatan kapasitas dilakukan terhadap Tim Pendamping Keluarga yang berasal dari bidan, kader KB, dan PKK.
Selain itu, BKKBN memperkuat jejaring dengan mengombinasikan Program GATI dengan Program Gerakan Ayah Asuh Cegah Stunting (Genting). Dunia usaha juga dilibatkan dalam kampanye dan pemahaman tentang pentingnya kasih sayang ayah bagi tumbuh kembang anak.
"Dalam berbagai gerakan ini, Kemendukbangga/BKKBN Kaltim berperan sebagai fasilitator, pendamping, penghubung, dan penggerak agar GATI berjalan efektif, terukur, dan berkelanjutan," ujar Sunarto.
Dari 10 kabupaten/kota di Kaltim, capaian tertinggi diraih Kabupaten Berau yang sudah merekrut 1.082 orang dari target 1.265 orang atau 85,53 persen. Kutai Barat juga mencatatkan angka impresif dengan 620 orang dari target 758 orang atau 81,79 persen.
Berikut rincian capaian program GATI per daerah hingga Mei 2026:
Sunarto optimistis target nasional di Kaltim pada 2026 bisa tercapai. Ia berharap seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat sinergi agar gerakan ayah teladan bisa menjangkau lebih banyak keluarga di pelosok Kalimantan Timur.