BALIKPAPAN — Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Balikpapan, Hasbullah Helmi, mengakui ada sejumlah faktor yang membuat pergerakan investasi di Kota Minyak melambat. Salah satu penyebab utamanya adalah proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) yang selama ini menjadi penyumbang terbesar investasi kini sudah memasuki tahap akhir.
"Beberapa sumber investasi besar mulai berkurang. Salah satunya karena proyek RDMP sudah memasuki tahap akhir sehingga kontribusinya tidak sebesar beberapa tahun sebelumnya," kata Helmi, Rabu (24/6/2026).
Selain faktor proyek raksasa yang selesai, kondisi geopolitik juga ikut menekan iklim investasi. Konflik di Timur Tengah disebut Helmi berdampak langsung pada kenaikan harga energi dan biaya operasional, yang menjadi pertimbangan serius bagi investor.
"Kondisi perang di Timur Tengah ikut memengaruhi ekonomi global. Dampaknya terasa pada harga BBM dan biaya operasional yang menjadi pertimbangan investor," jelasnya.
Meski capaian awal tahun baru 15 persen dari target, Helmi menegaskan angka Rp22 triliun sengaja dipasang realistis. Pada tahun lalu, realisasi investasi Balikpapan justru melampaui target dan mencapai Rp27 triliun.
"Kami tetap menetapkan target Rp22 triliun seperti tahun sebelumnya. Kondisi ekonomi global saat ini memang cukup menantang sehingga target yang ditetapkan harus realistis," ujar Helmi.
Ia berharap capaian tahun ini minimal bisa menyamai realisasi tahun lalu. "Kalau realisasinya bisa menyamai atau bahkan mendekati capaian tahun lalu, itu akan menjadi hasil yang sangat baik bagi Balikpapan," tutupnya.
Hingga saat ini, sektor industri pengolahan masih menjadi kontributor utama investasi di Balikpapan. Helmi menilai sektor ini tetap memiliki daya tarik kuat karena didukung infrastruktur dan aktivitas industri yang sudah berkembang.
"Industri pengolahan masih menjadi kontributor utama investasi. Kami melihat sektor ini masih memiliki peluang pertumbuhan yang cukup baik," katanya.
Untuk menjaga minat investor, DPMPTSP terus melakukan langkah percepatan pelayanan dan penyederhanaan proses perizinan. "Kami terus memberikan kemudahan pelayanan kepada investor. Harapannya investasi yang masuk tetap tumbuh meskipun kondisi ekonomi global belum sepenuhnya stabil," tutur Helmi.