Tesla FSD Kembali Disorot Usai Kecelakaan Fatal di Texas, NHTSA dan NTSB Buka Investigasi

Penulis: Ginanjar Raharjo  •  Senin, 29 Juni 2026 | 10:06:31 WIB
Kecelakaan fatal Tesla FSD di Texas memicu investigasi oleh NHTSA dan NTSB.

KALIMANTAN TIMUR — Kabar kurang sedap datang dari industri kendaraan listrik dan otonom. Sistem bantuan mengemudi andalan Tesla, Full Self-Driving (Supervised), kembali menjadi sorotan setelah terlibat dalam kecelakaan maut di Texas. Sebuah mobil Tesla menabrak rumah dan menewaskan seorang wanita lanjut usia (76 tahun). Kejadian ini langsung menarik perhatian nasional setelah pengemudi melaporkan bahwa sistem Autopilot—pendahulu FSD yang sudah dihentikan—sedang aktif saat kecelakaan terjadi.

Kronologi dan Bantahan Tesla

Vice President of AI Software Tesla, Ashok Elluswamy, memberikan versi berbeda. Melalui akun X (Twitter), ia mengklaim bahwa pengemudi justru secara manual mengesampingkan sistem self-driving. "Pengemudi menekan pedal akselerasi hingga 100 persen di area pemukiman tersebut," tulis Elluswamy. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa kendaraan tersebut menggunakan FSD (Supervised), bukan Autopilot.

Meski begitu, tanpa investigasi independen, kebenaran klaim tersebut belum bisa dipastikan. Badan Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional (NHTSA) dan Badan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) kini telah membuka penyelidikan resmi untuk mengungkap fakta di lapangan.

Gugatan Hukum dan Investigasi Visibilitas

Kasus ini bukan satu-satunya masalah hukum yang membayangi Tesla. Perusahaan dilaporkan telah menyelesaikan gugatan terpisah terkait kecelakaan fatal di tahun 2023 yang juga melibatkan FSD (Supervised). Kecelakaan tersebut menjadi bagian dari investigasi NHTSA yang lebih luas, yang berfokus pada kemampuan sistem mendeteksi dan merespons kondisi jalan dengan visibilitas rendah. Kondisi yang dimaksud meliputi silau matahari, kabut, atau debu di udara.

Semua perhatian ini datang di saat Tesla gencar memposisikan diri sebagai perusahaan AI dan robotika. FSD (Supervised) saat ini menjadi produk paling terlihat dan penghasil pendapatan yang terkait dengan citra baru tersebut.

Waymo Justru Ekspansi Armada Robotaxi

Di tengah gempuran isu Tesla, kompetitor Waymo justru menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan dokumen Bill of Lading yang diperoleh firma riset MoffettNathanson, Waymo disebut tengah mengimpor armada robotaxi dalam jumlah besar. Analisis terhadap label kendaraan Zeekr (CM1e/CME) yang digunakan Waymo mengungkapkan proyeksi impor mencapai 3.156 unit kendaraan ke AS tahun ini, atau sekitar 300 unit per bulan.

Robotaxi anyar Waymo, yang diberi nama kode Ojai, merupakan hasil kerja sama dengan Zeekr (anak perusahaan Geely Group, China). Kendaraan mirip minivan ini dirancang di Swedia dan diproduksi di China. Penting dicatat, kendaraan ini tidak dilengkapi modul komunikasi kendaraan untuk mematuhi kebijakan AS yang melarang teknologi kendaraan terhubung asal China. Setelah tiba di AS, Waymo akan memasukkan sistem self-driving generasi keenamnya yang mencakup 13 kamera, empat sensor lidar, enam unit radar, dan serangkaian penerima audio eksternal.

Investasi dan Pendanaan di Sektor Otonom

Ekosistem kendaraan otonom juga diramaikan oleh sejumlah pendanaan dan kemitraan strategis. Aseon Labs, startup Silicon Valley yang mengembangkan pod seluler untuk inspeksi, pembersihan, dan pengisian daya robotaxi secara otonom, berhasil mengantongi pendanaan tahap awal (seed) senilai USD 10 juta. Putaran ini dipimpin oleh Crane Venture Partners dengan partisipasi dari Y Combinator, Expa (milik co-founder Uber Garrett Camp), Robin Hood Ventures, dan Founders Capital.

Sementara itu, startup drone kargo otonom Elroy Air berencana melantai di bursa melalui merger dengan perusahaan cek kosong Columbus Circle Capital Corp II, dengan nilai transaksi sekitar USD 1 miliar. Di Afrika, platform kendaraan listrik dan infrastruktur energi bersih Spiro mengamankan investasi USD 55 juta dari NewTrails Capital, sebuah dana ventura asal China.

Dukungan Regulasi untuk Kendaraan Tanpa Pedal Rem

Di sisi regulasi, Departemen Perhubungan AS mengusulkan perubahan aturan federal yang bisa menjadi angin segar bagi perusahaan seperti Tesla dan Zoox. Usulan tersebut memungkinkan produsen untuk tidak menyertakan pedal rem pada kendaraan yang dirancang untuk dikemudikan secara eksklusif oleh sistem otonom. Jika disetujui, aturan ini akan menghilangkan salah satu hambatan teknis utama dalam produksi massal robotaxi tanpa setir dan pedal.

Reporter: Ginanjar Raharjo
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top