PENAJAM — Perairan Teluk Balikpapan yang menjadi urat nadi transportasi warga Balikpapan dan Penajam Paser Utara (PPU) tengah dilanda cuaca ekstrem. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kondisi gelombang tinggi ini akan bertahan hingga September 2026.
Setiap hari, ribuan warga bergantung pada klotok, speedboat, dan kapal feri untuk bekerja maupun beraktivitas. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, perjalanan laut terasa jauh lebih berat.
Salah seorang penumpang klotok, Debby Putri, mengaku hampir setiap pekan menyeberang dari PPU ke Balikpapan untuk bekerja. Ia merasakan sendiri bagaimana kapal oleng saat ombak besar menerjang.
“Akhir-akhir ini ombaknya memang besar. Waktu naik klotok dari PPU ke Balikpapan, kapalnya terasa miring kanan kiri. Sampai pusing juga,” ujarnya, Rabu (15/7).
Menurut Debby, gelombang biasanya terasa lebih tinggi saat memasuki sore hingga petang. “Kalau sore ombaknya biasanya lebih tinggi, lebih terasa,” katanya.
Menanggapi situasi ini, Wakil Bupati PPU Abdul Waris Muin mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan aspek keselamatan. Ia meminta setiap penumpang dan awak kapal untuk selalu menggunakan jaket pelampung (life jacket).
“Kita upayakan mengantisipasi kecelakaan. Karena mulai bulan ini hingga beberapa bulan ke depan kondisi cuaca kemungkinan tidak bersahabat dengan kita, baik gelombang maupun cuaca,” ujarnya.
Waris mengungkapkan, jumlah jaket pelampung yang disediakan pemerintah daerah terus berkurang. Dari lebih dari 100 unit yang sebelumnya tersedia, kini hanya tersisa sekitar 30 unit.
Ia pun meminta para motoris speedboat dan klotok ikut menjaga keberadaan pelampung agar tidak hilang atau tercecer setelah digunakan penumpang. “Ini aset pemerintah daerah sekaligus alat keselamatan yang harus dijaga bersama,” pungkasnya.