PENAJAM — Cuaca kemarau panjang dan angin kencang membuat gelombang tinggi, menghambat nelayan melaut. Akibatnya, produksi ikan tangkap di Penajam Paser Utara hanya 3.300 ton hingga Juli 2026, turun dari 5.000 ton pada periode sama tahun lalu. Padahal, dalam kondisi normal, total produksi bisa mencapai 6.672 ton hingga akhir tahun.
Pemerintah kabupaten mendorong nelayan mengolah hasil tangkapan menjadi ikan asin atau produk tahan lama untuk menaikkan harga jual. "Kondisi cuaca panas terik membuat proses pengeringan ikan menjadi lebih cepat," ujar Kepala Dinas Perikanan Andi Trasodiharto. Dengan nilai jual lebih tinggi, pendapatan nelayan diharapkan tetap terjaga hingga cuaca normal.
Penajam Paser Utara memiliki 2.902 nelayan dalam 367 kelompok, mengoperasikan 2.505 kapal berbagai ukuran. Sektor perikanan tangkap menjadi penopang ekonomi pesisir, khususnya di wilayah yang berbatasan dengan Ibu Kota Nusantara (IKN). Andi Trasodiharto menambahkan, pemantauan cuaca dan hasil tangkapan terus dilakukan; jika kemarau berkepanjangan, program olahan akan diperluas dengan pelatihan dan alat pengering sederhana bagi kelompok nelayan.